Situs Adan-Adan Kediri Diduga Kompleks Candi Buddha Terbesar

Situs Adan-Adan Kediri Diduga Kompleks Candi Buddha Terbesar

Penemuan berbagai struktur batuan dan artefak purbakala di Situs Adan-Adan, Dusun Puhsul, Desa Adan-Adan, Kabupaten Kediri, memicu dugaan adanya kompleks percandian Buddha raksasa. Kawasan ini diperkirakan memiliki potensi ukuran yang melampaui Candi Borobudur berdasarkan rasio temuan makara pada Kamis (7/5/2026).

Ekskavasi yang dilakukan oleh tim arkeologi nasional sejak penemuan awal tahun 2016 secara konsisten mengungkap bukti-bukti sejarah penting, dilansir dari Detik Travel. Temuan mencakup struktur bangunan inti seluas 21 meter dan total luas kompleks mencapai 800 meter persegi dengan pola mandala.

Juru Pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, memberikan rincian mengenai masa pembangunan dan kondisi artefak yang ditemukan di lokasi tersebut. Proses penanggalan karbon menunjukkan rentang waktu pembangunan yang signifikan pada masa lampau.

"Dari hasil karbon dating, diperkirakan situs ini berasal dari abad ke-9 sampai ke-11. Kemudian ditemukan juga beberapa arca yang belum selesai dikerjakan lalu ditinggalkan. Jadi disinyalir dulu pembangunannya belum selesai," kata Ikhwan, Juru Pelihara Situs Adan-Adan.

Meskipun telah dilakukan penggalian di 48 titik ekskavasi, Ikhwan menyebutkan bahwa sebagian besar struktur masih terpendam di bawah tanah. Pola arsitektur bangunan ini mengindikasikan struktur yang berlapis.

"Bangunannya bersifat mandala. Ada bangunan inti di tengah, lalu teras luar sampai bagian terluar. Jadi kemungkinan kompleksnya memang besar," jelas Ikhwan, Juru Pelihara Situs Adan-Adan.

Sejumlah benda purbakala yang ditemukan meliputi makara, Dwarapala, fragmen stupa, hingga kepala arca Buddha yang ditemukan pada 2020. Ukuran makara di situs ini dinilai menjadi indikator utama besarnya skala bangunan asli.

"Kalau disebut lebih besar dari Borobudur, mungkin karena rasio makara ini. Biasanya ukuran makara menentukan besarnya candi. Bahkan ada yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara," jelas Ikhwan, Juru Pelihara Situs Adan-Adan.

Terkait keberadaan artefak, Ikhwan mencatat bahwa salah satu arca Dwarapala kini berada di Museum Airlangga, Kota Kediri, setelah dipindahkan pada masa kolonial. Ia juga menyoroti temuan puncak stupa yang terkubur dalam tanah.

"Bagian stupanya sudah ditemukan di bawah, jadi kemungkinan dulu roboh. Penyebabnya belum diketahui pasti, bisa karena aktivitas vulkanik Gunung Kelud atau faktor lainnya," pungkas Ikhwan, Juru Pelihara Situs Adan-Adan.

Artikel terkait

Rekomendasi