Dewan Ekonomi Nasional Siapkan Skenario Penyesuaian Harga BBM Subsidi

Dewan Ekonomi Nasional Siapkan Skenario Penyesuaian Harga BBM Subsidi

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperingatkan potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) akibat tekanan fiskal dari lonjakan harga energi global dan beban subsidi yang melampaui asumsi APBN pada Rabu (6/5/2026). Situasi ini dipicu memanasnya geopolitik dunia yang mengerek biaya produksi produk turunan minyak bumi.

Tenaga Ahli Utama DEN Luthfi Ridho menjelaskan bahwa kondisi geopolitik global menyebabkan harga energi bertahan di level tinggi. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan crack spread atau selisih harga antara minyak mentah dengan produk jadi seperti BBM.

"Dengan crack yang masih tinggi, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi terkonstrain," ujar Luthfi Ridho dalam acara Katadata Policy Dialog di Jakarta.

Luthfi menambahkan bahwa penyesuaian harga akan sulit dihindari jika harga minyak acuan dunia, seperti Brent, terus bertahan pada level US$120 per barel dalam durasi beberapa bulan ke depan.

"Bukan berarti pasti dilakukan, tapi kalau rata-rata harga di level tersebut, mungkin sudah waktunya ada penyesuaian," sebut Luthfi Ridho.

Pemerintah diklaim telah menyusun berbagai strategi untuk menghadapi dinamika harga energi tersebut. Langkah penyesuaian harga tetap diposisikan sebagai opsi terakhir untuk melindungi daya beli masyarakat dari guncangan ekonomi.

"Intinya, kita sudah prepare dengan berbagai skenario yang bisa dibayangkan. Mudah-mudahan cukup komprehensif, sehingga apapun yang terjadi, kita tidak masuk ke kondisi economic distress," jelas Luthfi Ridho.

Sebagai solusi alternatif atas keterbatasan fiskal, DEN mendorong percepatan deregulasi untuk menarik investasi asing langsung (FDI). Langkah ini dianggap krusial guna menjaga keberlangsungan industri nasional di tengah tekanan biaya energi.

"Kita punya aturan yang masih berbelit, perlu deregulasi. Ada bottleneck yang membuat FDI (foreign direct investment/investasi asing langsung) itu sulit masuk, karena terlalu banyak persyaratan," tutur Luthfi Ridho.

Selain itu, pemerintah berupaya menekan ketergantungan impor melalui program hilirisasi dan pemanfaatan energi terbarukan. Penggunaan bahan bakar nabati seperti B50 menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan energi domestik.

"Kalau bicara renewable energy, ini adalah waktunya. Selain itu, substitusi energi juga penting, misalnya B50. Mungkin ada pro dan kontra, tapi itu salah satu upaya supaya kita tidak terlalu tergantung pada energi impor," jelas Luthfi Ridho.

Artikel terkait

Rekomendasi