Sejumlah sopir truk mengeluhkan maraknya praktik pungutan liar di sepanjang jalur Kapuk Kamal, Jakarta Utara, yang memaksa mereka mengeluarkan biaya tambahan hingga ratusan ribu rupiah. Fenomena ini terpantau masih berlangsung pada Selasa (5/5/2026) di beberapa titik persimpangan jalan menuju arah Dadap.
Aksi pungli tersebut dilaporkan menyasar kendaraan besar yang melintas dari arah Cengkareng, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Para pelaku biasanya berdiri di tengah persimpangan atau pertigaan jalan untuk meminta uang langsung kepada sopir saat kendaraan sedang melambat atau berbelok.
Fatih, salah satu sopir truk yang menggunakan nama samaran, mengungkapkan bahwa kondisi ini membuat banyak rekannya enggan mengambil rute ke wilayah tersebut tanpa kompensasi biaya jalan yang lebih tinggi dari perusahaan.
"Udah pada kagak mau, narik ke sini sebenernya. Makanya kami bilang, kalau mau ke sini harus uang jalannya gede," katanya kepada Kompas.com pada Selasa (5/5/2026).
Persiapan uang tunai dalam bentuk pecahan kecil menjadi kewajiban tidak tertulis bagi setiap pengemudi guna menghindari hambatan di perjalanan. Fatih menjelaskan bahwa total uang recehan yang harus disiapkan bisa mencapai angka Rp 300.000 untuk sekali melintas.
“Kita kalau ke sini harus nyiapin recehan, hitung aja sekitar Rp 200.000, Rp 300.000 recehan doang," ucapnya.
Risiko pengeluaran membengkak drastis saat operasional dilakukan pada malam hari karena beberapa titik dianggap lebih rawan. Jika sedang tidak beruntung, seorang sopir bisa kehilangan seluruh uang operasionalnya hanya untuk memenuhi permintaan oknum di jalan.
"Malam yang jalur-jalurnya rawan, itu bisa minta Rp 30.000, kadang Rp 50.000. Kalau misal lagi apes ya bisa (habis total) Rp 200.000," tuturnya.
Dampak ekonomi dari pungli ini sering kali memicu perselisihan internal antara pengemudi dan manajemen perusahaan logistik. Minimnya uang tambahan dari kantor membuat para sopir terpaksa menggunakan uang pribadi mereka untuk menutupi biaya pungutan tersebut.
"Ya, banyakan nomboknya. Kadang kita berantem ama perusahaan, jadi kalau misalnya (sopir) enggak mau narik, 'Ya udah saya resign', ya gitu," ujarnya.
Sopir lainnya bernama Ardi (45) memberikan kesaksian serupa mengenai banyaknya titik pungutan yang tersebar di sepanjang jalur Kapuk Kamal. Ia memilih menyiasati permintaan tersebut dengan hanya memberikan nominal kecil meskipun para pelaku meminta lebih.
“Ya, besar kecilnya kadang-kadang Rp 50.000 mah habis itu pas jalan. Mereka itu setiap perempatan kan mintanya Rp 5.000. Cuman kadang-kadang kan saya mah siapin aja Rp 2.000. Kalau ngikutin permintaan mereka, habislah duit," ujarnya saat ditemui Kompas.com pada Selasa.
Ardi menambahkan bahwa penindakan yang dilakukan aparat selama ini belum memberikan efek jera yang permanen. Praktik ilegal ini terus muncul kembali di lokasi yang sama meski sempat dilakukan pembersihan atau penangkapan oknum sebelumnya.
“Ditangkap hari ini, besok juga ada lagi, ada lagi," tuturnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat sedikitnya tiga titik utama pungli, termasuk di pertigaan menuju Jalan Kapuk Kamal Raya dan di depan Rumah Pompa Polder Kamal. Di sana, sejumlah orang mengatur lalu lintas secara mandiri sambil mengulurkan tangan ke arah jendela sopir truk yang lewat.