Persediaan beras global diproyeksikan mengalami penyusutan pada tahun ini seiring keputusan para petani di kawasan Asia untuk membatasi luas area tanam mereka. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan iklim yang menekan sektor pertanian secara signifikan.
Dikutip dari Lestari, kelangkaan pupuk serta lonjakan harga bahan bakar akibat konflik perang Iran menjadi penyebab utama kendala produksi. Selain itu, ancaman pola cuaca El Nino diperkirakan bakal semakin memperburuk hasil panen di berbagai belahan dunia.
Sebagai komoditas pokok bagi ketahanan pangan global, gangguan kecil pada distribusi beras dapat memicu lonjakan harga yang drastis. Kondisi tersebut berpotensi membebani pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi penduduk di wilayah Asia dan Afrika.
Situasi saat ini bertolak belakang dengan prediksi organisasi pangan PBB (FAO) pada April lalu. Sebelumnya, FAO sempat memperkirakan produksi beras akan tumbuh 2 persen dan mencapai rekor tertinggi untuk periode 2025/26.
Melansir Independent pada Kamis, 30 April 2026, efek perang Iran mulai merambah aktivitas pertanian di negara eksportir utama seperti Thailand dan Vietnam. Dampak serupa juga dirasakan oleh negara importir besar termasuk Indonesia dan Filipina.
Para pelaku usaha dan petani melaporkan bahwa konflik bersenjata tersebut telah mengganggu pengiriman bahan bakar serta pupuk melalui Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan rute logistik krusial yang menghubungkan pasar internasional.
Tekanan bagi petani kecil di Asia Tenggara kian bertambah karena cuaca panas ekstrem akibat El Nino diprediksi melanda pada semester kedua tahun ini. Hal ini memaksa para petani mengambil langkah efisiensi yang berisiko.
Ekonom utama FAO, Maximo Torero, mengungkapkan bahwa petani di sejumlah negara telah memulai masa tanam namun mengurangi penggunaan pupuk karena harganya yang melambung. Akibatnya, cadangan beras global diprediksi akan menipis hingga awal tahun depan.
Kondisi ini membangkitkan ingatan pada krisis pangan tahun 2008, saat pembatasan ekspor menyebabkan harga beras melonjak hingga 1.000 dolar AS per ton. Kejadian serupa juga sempat terulang pada periode 2022 hingga 2023 akibat kebijakan proteksi perdagangan dari India.
Penurunan Kapasitas Produksi di Asia Tenggara
Kekurangan asupan nutrisi tanaman dan kekeringan lahan sudah mulai mereduksi hasil panen di Asia Tenggara. Penurunan produktivitas yang lebih tajam diperkirakan terjadi pada siklus panen besar berikutnya di beberapa negara produsen.
India, Thailand, dan Filipina umumnya memulai penanaman tanaman utama pada Juni dan Juli. Sementara itu, petani di Vietnam dan Indonesia saat ini tengah berada dalam masa tanam untuk musim kedua di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Filipina sebagai importir beras terbesar di dunia menghadapi tantangan berat akibat fenomena ini. Banyak petani setempat yang memilih untuk tidak menggarap lahan atau mengurangi pupuk demi menekan biaya produksi yang tidak terkendali.
Hasil panen beras di Filipina diprediksi mengalami penurunan hingga 6 juta ton dari angka normal sekitar 19 hingga 20 juta ton. Situasi ini dinilai berisiko karena sulitnya mencari pasokan impor akibat kebijakan pembatasan ekspor oleh negara mitra.
Kondisi Ketahanan Pangan di Indonesia
Di Indonesia, ketersediaan pupuk dilaporkan tidak mengalami kendala berarti, namun tantangan utama tetap bersumber dari anomali cuaca. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan penurunan luas lahan panen beras yang cukup signifikan.
Luas lahan panen untuk periode Maret hingga Mei diperkirakan menyusut 10,6 persen menjadi 3,85 juta hektar. Dampaknya, volume produksi gabah diprediksi akan terkoreksi sebesar 11,12 persen menjadi 20,68 juta ton.
Meski demikian, risiko kelangkaan stok secara global dinilai masih memiliki peluang untuk dimitigasi. Hal ini didorong oleh pencapaian hasil panen yang melimpah selama beberapa tahun ke belakang di beberapa wilayah.
Data Departemen Pertanian AS menunjukkan bahwa India memiliki cadangan stok mencapai 42 juta ton, atau sekitar seperlima dari total cadangan dunia. Stok tersebut diharapkan mampu menyeimbangkan penurunan produksi global yang tengah terjadi.
Maximo Torero memberikan penekanan bahwa tren kenaikan harga beras kemungkinan besar akan tetap bertahan. Jika hambatan logistik di Selat Hormuz tidak terselesaikan dalam dua hingga tiga minggu kedepan, krisis pangan global diprediksi memasuki fase yang sangat serius.