Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah Indonesia (Aslindo) menekankan pentingnya penguatan strategi sosialisasi guna memacu kinerja penyaluran pinjaman industri pada Kamis (14/5). Langkah ini diambil merespons penurunan penyaluran pembiayaan yang tercatat hingga akhir kuartal pertama tahun ini.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan angka penyaluran pinjaman LKM mencapai Rp 1 triliun pada Maret 2026, sebagaimana dilansir dari Keuangan. Capaian tersebut mengalami kontraksi sebesar 5,66% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Maret 2025 yang menyentuh Rp 1,06 triliun.
Ketua Umum Aslindo Burhan memberikan penegasan bahwa salah satu langkah utama yang harus ditempuh adalah peningkatan literasi kepada masyarakat luas. Upaya tersebut dinilai krusial agar kehadiran lembaga keuangan mikro semakin dikenal oleh publik sebagai solusi permodalan.
"Hal itu perlu terus digencarkan agar LKM makin dikenal masyarakat," ucap Burhan, Ketua Umum Aslindo.
Selain faktor sosialisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi fokus melalui program pelatihan dan sertifikasi pengurus. Burhan menilai penguatan tata kelola yang baik serta kolaborasi permodalan dengan lembaga lain akan memperkokoh fondasi industri.
"Ditambah, melakukan kerja sama dengan lembaga lain dalam hal permodalan dan penguatan sumber daya manusia," tutur Burhan, Ketua Umum Aslindo.
Kendati menunjukkan tren kontraksi 0,1% dibandingkan posisi Februari 2026, pihak asosiasi tetap memandang optimistis prospek industri hingga akhir tahun. Burhan mengidentifikasi sejumlah tantangan eksternal seperti keberadaan pinjaman online ilegal, praktik judi online, serta keberadaan rentenir sebagai faktor yang harus diwaspadai.
Pertumbuhan kinerja diharapkan dapat terakselerasi melalui berbagai kolaborasi strategis yang tengah dijalankan asosiasi. Fokus utama tetap tertuju pada penguatan modal dan pengawasan internal untuk menjaga stabilitas penyaluran pinjaman ke depan.