Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyiapkan pengucuran subsidi anggaran belanja tidak terduga untuk mengintervensi potensi lonjakan harga pangan di Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026. Langkah ini diambil pemerintah pusat dan daerah sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS.
Pemerintah berencana menyalurkan bantuan tersebut dalam bentuk subsidi ongkos kirim bahan pangan guna menekan beban biaya logistik. Anggaran tersebut dialokasikan melalui sinkronisasi dana darurat antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga tingkat kabupaten dan kota.
"Ada anggaran untuk bencana tidak terduga. Jadi disubsidi," kata Zulkifli, Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Berbeda dengan pernyataan tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai kondisi pasar domestik saat ini masih berada dalam batas aman. Ia mengklaim fluktuasi mata uang asing belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas harga barang di pasar.
"Selama ini kan normal, tidak ada masalah," ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Data Kementerian Perdagangan pada 12 Mei 2026 menunjukkan fluktuasi harga mulai terjadi pada sejumlah komoditas pokok. Harga minyak goreng sawit curah naik menjadi Rp19.560 per liter, sementara kedelai impor mencapai Rp13.607 per kilogram atau jauh melampaui harga acuan pembelian (HAP) di angka Rp11.400-12.000 per kilogram.
Tekanan terhadap rupiah yang mencapai posisi 17.529 per dolar AS pada Selasa sore, 12 Mei 2026, menurut Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, dipicu oleh kombinasi faktor global dan sentimen domestik.
"Pada akhirnya akan ada shifting ataupun perpindahan dari investor yang sebelumnya menempatkan aset di negara berkembang, akan memindahkannya ke aset-aset yang aman," ucap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
Kondisi pasar modal Indonesia mencatat aliran modal keluar (capital outflow) sebesar US$2,2 miliar di pasar saham sejak awal tahun hingga Mei 2026. Josua menjelaskan bahwa sentimen negatif ini juga diperparah oleh penurunan prospek utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody's dan Fitch Ratings.
"Sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite dari investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita," tutur Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
Hingga saat ini, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sebesar 3,9 persen secara year-to-date (ytd) menurut catatan PIER. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan Asia lainnya akibat inflasi energi dan tingginya permintaan dolar AS.