Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (19/5/2026) pukul 10.30 WIB guna memantau stabilitas ekonomi nasional secara langsung saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tren pelemahan akibat sentimen pasar global.
Kunjungan mendadak ini dilakukan bersama CEO Danantara Rosan Roeslani dan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria, dilansir dari Suara. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi juga turut hadir di lokasi perdagangan.
Pergerakan IHSG terpantau merosot 0,35 persen ke level 6.576,07 pada pukul 09.25 WIB dengan mencatat 261 saham menguat, 197 saham melemah, dan 501 saham stagnan. Penurunan ini melanjutkan hantaman keras pada Senin (18/5/2026) ketika indeks terkoreksi 1,85 persen ke posisi 6.599,24 dengan nilai transaksi Rp20,70 triliun.
Bursa regional menunjukkan performa bervariasi, di mana Singapore Straits Times Index (STI) menguat tipis 0,15 persen ke level 4.996,75, sedangkan SSE Composite China turun 0,09 persen dan Nikkei 225 Jepang menyusut 0,97 persen.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada direksi bursa maupun OJK yang sudah bekerja keras, susah payah berusaha menghadapi situasi saat ini. Tentu, kondisi sekarang ini disebabkan pasar global serta dinamika di dalam negeri," kata Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Pelemahan ini dinilai sebagai akumulasi sentimen global yang terjadi ketika pasar modal domestik sedang dalam masa libur. Otoritas bursa meminta para penanam modal untuk tidak panik dan tetap melihat fundamental perusahaan yang kuat.
"Bila diakumulasikan koreksi dua hari terakhir pada pasar global Asia, yakni sewaktu kita libur, ditambah ada sedikit koreksi hari ini, memang sama dengan penurunan yang terjadi saat ini. Karenanya, masih inline dalam tren pasar global," kata Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik.
Struktur pasar modal Indonesia saat ini diklaim sudah jauh lebih mapan karena ditopang oleh basis investor domestik yang telah mencapai angka 27 juta. Meski menghadapi ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan fluktuasi komoditas, integritas perdagangan dipastikan tetap terjaga.
"Kami tak pernah memprediksi angka indeks, tapi bisa dipastikan semua transaksi perdagangan berjalan teratur, efisien, serta wajar. Lalu, kami serahkan ke mekanisme pasar," kata Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik.
Kondisi pasar saham dalam negeri sebelumnya sempat mencatatkan performa terburuk di Asia Tenggara pada pekan 11—13 Mei 2026 dengan koreksi 3,53 persen ke level 6.723,32, berbeda dengan bursa Korea Selatan yang melonjak 4,61 persen.