Suku Bunga The Fed Hadapi Polarisasi di Tengah Penurunan Harga Emas

Suku Bunga The Fed Hadapi Polarisasi di Tengah Penurunan Harga Emas

Pejabat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed menunjukkan perbedaan pandangan terkait kebijakan suku bunga jangka pendek di tengah kejatuhan harga emas dunia pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Penurunan nilai logam mulia tersebut dipicu oleh penguatan indeks dolar AS selama tiga sesi berturut-turut dan lonjakan harga minyak mentah.

Investor global kini mengalihkan fokus pada rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) AS periode Mei yang dijadwalkan pada Jumat (6/6/2026) mendatang. Data ini krusial untuk memproyeksikan langkah moneter The Fed setelah laporan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta AS melampaui ekspektasi pasar.

Kebijakan moneter internal AS saat ini menghadapi dua opini berbeda dari para pimpinan regional bank sentral. Presiden The Fed Bank New York John Williams memberikan pernyataan awal mengenai stabilitas suku bunga acuan acuan saat ini.

"belum melihat alasan bagi bank sentral AS untuk mengubah tingkat suku bunga jangka pendek saat ini," kata John Williams, Presiden The Fed Bank New York sebagaimana dilansir dari investor.id.

Sikap tersebut berbeda dengan proyeksi pengetatan moneter lanjutan yang disampaikan oleh pimpinan regional The Fed lainnya. Antisipasi kenaikan suku bunga tetap terbuka jika indikator perekonomian memburuk.

"bank sentral AS mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat," ujar Beth Hammack, Presiden The Fed Cleveland.

Selain emas, tekanan pasar komoditas juga melanda sektor logam mulia lainnya pada perdagangan yang sama. Harga perak spot terkoreksi 2,2 persen ke level US$ 73,40 per ons troi, sementara platinum merosot 3,5 persen menuju posisi US$ 1.868,58 per ons troi. Komoditas paladium turut melemah sebesar 3,5 persen menjadi US$ 1.321,97 per ons troi.

Artikel terkait

Rekomendasi