Survei Deloitte Ungkap Tekanan Finansial Bentuk Generasi Nanti Dulu

Survei Deloitte Ungkap Tekanan Finansial Bentuk Generasi Nanti Dulu

Tekanan finansial yang besar kini mengubah cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan, stabilitas, dan masa depan mereka.

Kondisi ini memicu lahirnya fenomena "maybe later generation" atau generasi "nanti dulu", yaitu kelompok yang aktif bekerja tetapi harus menunda berbagai keputusan besar hidup.

Laporan 2026 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte mengungkapkan bahwa biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut, dikutip dari Money.

Survei global ini melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara.

Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan pengeluaran harian sebagai perhatian utama, melampaui isu pengangguran, politik, hingga lingkungan.

Akibatnya, lebih dari separuh responden memilih menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, membangun bisnis, hingga melanjutkan pendidikan.

Tercatat sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial menangguhkan rencana besar tersebut karena faktor keuangan.

"Biaya hidup adalah kekhawatiran terbesar saya karena harga-harga terus naik sementara gaji tidak, menyebabkan kerusakan ekonomi, dan hilangnya kemampuan untuk membeli apa yang kita inginkan," kata Khalil, responden milenial dalam survei tersebut, dikutip dari laporan Deloitte, Minggu (17/5/2026).

Lonjakan harga hunian juga memengaruhi pilihan karier dan lokasi kerja bagi 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial.

Selain itu, sebanyak 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah sendiri.

"Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun yang lalu sama sekali tidak sama," ujar Rukaya, responden Gen Z.

"Pendapatan kami memang meningkat, tetapi gagasan untuk bisa membeli rumah rasanya tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu. Saat ini kami akan menghabiskan jauh lebih banyak uang untuk rumah yang lebih kecil," lanjut dia.

Ketimpangan antara upah kerja dan ongkos hidup sehari-hari juga memicu kesulitan menabung di kalangan pekerja muda.

"Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat, terutama untuk mendapatkan rumah di lingkungan yang bagus dan aman hampir tidak terjangkau," ungkap Mel.

Mel juga menyoroti ketidaksesuaian kompensasi dari pemberi kerja.

"Para pemberi kerja tidak membayar gaji yang mendekati biaya hidup. Ketika saya melihat lowongan pekerjaan yang diiklankan secara online di kota saya, gaji yang ditawarkan tidak sesuai dengan biaya hidup di sini," katanya.

"Sangat sulit bagi orang-orang untuk menabung karena mereka menghabiskan semua uang mereka untuk perumahan," ucap Mel.

Kondisi Finansial Bulanan dan Pergeseran Ambisi Karier

Riset ini menemukan 47 persen Gen Z dan milenial hidup dari gaji ke gaji, dengan 34 persen di antaranya kesulitan memenuhi kebutuhan bulanan.

Meski demikian, angka kelompok yang hidup pas-pasan ini menurun dibandingkan tahun lalu yang sempat menyentuh posisi 52 persen.

Optimisme masa depan masih ada, di mana 53 persen Gen Z dan 45 persen milenial memperkirakan kondisi finansial mereka akan membaik dalam 12 bulan ke depan.

"Biaya hidup merupakan kekhawatiran yang signifikan karena secara langsung memengaruhi kemampuan saya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti perumahan, makanan, dan transportasi," ujar Tymon, responden Gen Z.

"Ketika biaya meningkat lebih cepat daripada pendapatan, hal itu akan membebani anggaran kita, mengurangi kemampuan kita untuk menabung, dan membatasi pengeluaran diskresioner," lanjut dia.

Tekanan ekonomi turut mengubah arah perkembangan karier, di mana kemajuan yang stabil kini lebih diminati daripada promosi kilat.

Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial memilih perkembangan karier yang konstan demi menjaga work-life balance dan menghindari burnout.

Hanya ada 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan atau manajemen puncak sebagai tujuan utama mereka saat ini.

"Saya ingin merasa puas dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak selalu membutuhkan semua promosi agar pekerjaan saya membuat saya merasa puas," ujar Nita, responden Gen Z.

"Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," kata dia.

Pandangan mengenai arti kesuksesan yang berfokus pada keseimbangan hidup juga ditegaskan oleh responden lainnya.

"Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi." ujar Zeina.

Bertahan Melalui Pengembangan Keterampilan

Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi ini, generasi muda aktif meningkatkan kemampuan diri agar tetap relevan di pasar kerja.

Keterampilan baru yang dipelajari meliputi kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga literasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Saya selalu berusaha untuk berkembang, mempelajari hal-hal baru, dan menjadi lebih baik dalam bidang pekerjaan saya," terang Dmitriy, responden milenial.

"Saya hanya ingin terus belajar dan berkembang, jadi saya tidak harus selalu meniti karier hingga menjadi CEO atau semacamnya, tetapi saya ingin mempelajari keterampilan baru dan menambah kemampuan saya," kata Ella.

Berdasarkan klasifikasi riset ke-15 Deloitte ini, Gen Z merujuk pada kelompok kelahiran 1995 hingga 2007, sementara milenial merupakan kelompok kelahiran 1983 hingga 1994.

Artikel terkait

Rekomendasi