PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan pembangunan jalur baru dan reaktivasi lintas nonaktif guna memperpanjang jaringan rel kereta api nasional hingga 37.000 sampai 60.000 kilometer pada 2045, seperti dilansir dari Detik Finance.
Langkah ekspansi tersebut dilakukan karena infrastruktur rel aktif di Indonesia saat ini baru mencapai kisaran 6.700 kilometer.
Rencana penambahan panjang jalur kereta api tersebut disampaikan langsung oleh manajemen perusahaan dalam pertemuan resmi bersama legislatif di Jakarta pada Rabu (3/6/2026).
"Kita memerlukan sekitar 37.000 kilometer sampai 60.000 kilometer di tahun 2045, jadi totalnya itu kilometer dari rel itu, itu diharapkan 37.000 sampai 60.000 kilometer," kata Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI.
Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa panjang rel aktif saat ini bahkan masih berada di bawah capaian jaringan rel Pulau Jawa era kolonial Belanda yang sempat menyentuh angka 10.000 kilometer.
"Artinya yang harus kita lakukan adalah reaktivasi rel-rel yang ada di Jawa, seperti saya gambarkan tadi di Jawa itu yang aktif itu kurang dari 7.000 (km), sementara waktu jaman Belanda itu, itu sudah 10.000 (km) sebenarnya di Jawa ini.Jadi kita bukan nambah jumlah rel di Jawa ini, tapi malah berkurang," sambung Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI.
Proyeksi pengembangan infrastruktur ini juga berjalan beriringan dengan target pertumbuhan finansial perusahaan dalam jangka menengah hingga tahun 2030.
KAI memproyeksikan pendapatan perseroan akan melonjak naik menuju angka Rp 66 triliun, sejalan dengan target panjang rel nasional yang diupayakan melampaui 7.000 kilometer pada 2030.
"Di mana pada saat ini panjang rel itu hanya 6.700 kilometer, revenue perusahaan itu Rp 35,7 triliun diharapkan di tahun 2030 rel jumlah panjangnya akan lebih dari 7.000 kilometer, dengan revenue sekitar Rp 66 triliun," ujar Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI.
Selain memperluas jalur fisik, perusahaan kini sedang berupaya menggeser struktur pendapatan agar tidak bertumpu penuh pada sektor angkutan penumpang dan logistik yang saat ini mendominasi sebesar 96 persen.
Perseroan mulai memperkuat lini bisnis pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang saat ini kontribusinya baru mencapai 4 persen, salah satunya melalui proyek 5.000 unit hunian di Manggarai yang ditargetkan selesai pada 2027.
"Kalau kita berkaca dengan JR, Japan Railways, farebox dan logistik mereka itu 60%, 40% itu dari Transit Oriented Development. Makanya akhir-akhir ini kami mencoba untuk lebih memperkuat penguatan pendapatan itu di TOD," tutup Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI.