Pemerintah Republik Indonesia menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5 persen secara year on year pada tahun 2027 mendatang. Target ambisius tersebut disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di Jakarta pada Kamis (7/5/2026), sebagaimana dilansir dari Money.
Angka sasaran untuk tahun 2027 tersebut dipatok lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 yang berada di level 6,3 persen. Rachmat menegaskan bahwa pencapaian angka ini sangat bergantung pada kontribusi dan sinergi dari seluruh pemerintah daerah di tanah air.
"Bahwa kita perlu tumbuh dan pertumbuhan ini tidak hanya di Jakarta tapi tumbuh di setiap daerah dan dalam catatan kami, pertumbuhan nasional 5,9 persen sampai 7,5 persen tidak bisa dicapai tanpa dukungan daerah," ujar Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Strategi pencapaian target dilakukan melalui akselerasi delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) yang mencakup 53 program unggulan. Program ini meliputi sektor swasembada pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga hilirisasi industri dan upaya pengentasan kemiskinan di berbagai wilayah.
Pendanaan program tersebut direncanakan menggunakan skema APBN maupun non-APBN, termasuk memanfaatkan investasi dari Danantara untuk memperluas ruang fiskal negara.
"Justru pembiayaan non APBN termasuk investasi Danantara juga harus kita dorong secara aktif agar kapasitas pembangunan kita tidak terbatas pada fiskal semata," jelas Rachmat Pambudy, Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Pada kesempatan terpisah, Selasa (5/5/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini sebenarnya sedang dalam fase akselerasi. Menurutnya, laju positif ini sering kali tidak disadari oleh publik dan pelaku pasar modal.
"Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi, itu yang tidak disadari banyak orang, sehingga orang agak takut dan keluar dari pasar modal," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Keyakinan Menkeu didasarkan pada capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang telah menyentuh angka 5,61 persen. Purbaya optimis bahwa diversifikasi ekonomi akan semakin solid sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir terhadap prospek ke depan.
"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua enggak usah takut," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Terkait kondisi kas negara, Purbaya menyampaikan pesan langsung dari Presiden Prabowo yang menjamin ketersediaan anggaran pemerintah untuk mendukung berbagai agenda pembangunan nasional.
"Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya, suruh sampaikan pesan bahwa, 'uang saya cukup, duitnya banyak, jadi anda enggak usah takut'," katanya Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Sebagai langkah penguatan nilai tukar rupiah, pemerintah berencana melakukan diversifikasi sumber pendanaan internasional. Salah satu upayanya adalah menerbitkan surat utang atau bond di pasar China untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dollar AS.
"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam Panda Bonds di China dengan bunga yang lebih rendah, sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dollar lagi," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.