Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah signifikan hingga menyentuh posisi 6.402,56 pada perdagangan hari Senin (18/5/2026) pukul 11.04 WIB. Penurunan tajam ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta kecemasan investor terhadap kelanjutan era suku bunga tinggi.
Data BEI menunjukkan IHSG sempat merosot hingga 320,76 poin atau 4,77 persen dari penutupan sebelumnya. Sementara pada awal pembukaan, indeks saham domestik tersebut juga sudah dibuka melemah sebesar 94,34 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,98, diikuti kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang turun 9,37 poin ke level 648,51.
Kondisi pasar modal Indonesia ini mendapat perhatian dari para analis karena adanya arus modal keluar menyusul kebijakan penyesuaian indeks global. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan pemaparan mengenai faktor eksternal dan pergerakan kurs yang menekan posisi indeks.
"Dapat kita cermati juga dari pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi, ditambah dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih tertekan dan saat ini berada di level Rp 17.676 per dolar AS turut membebani pergerakan IHSG," ujar Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas.
Herditya Wicaksana menambahkan bahwa sentimen negatif juga datang dari keputusan penyedia indeks global MSCI dan FTSE yang membekukan saham Indonesia. Kebijakan pemeringkat internasional tersebut diproyeksikan memicu penarikan dana investor dalam jumlah besar.
"Dimana hal ini akan menimbulkan outflow (arus dana keluar) yang cukup besar di akhir Mei (2026) nanti," ujar Herditya Wicaksana.
Di sisi lain, pergerakan indeks global juga dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas energi akibat konflik bersenjata yang belum mereda. Herditya Wicaksana menilai situasi di tingkat global ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi.
"Seiring konflik geopolitik yang berlarut-larut, Didit mencermati telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel, yang juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi ke depan, serta perlambatan ekonomi global," ujar Herditya Wicaksana.
Selain faktor fundamental ekonomi makro, tekanan psikologis pasar saham dalam negeri juga dipengaruhi oleh aksi lepas saham oleh investor asing. Pengamat Pasar Modal Reydi Octa memberikan pandangan mengenai kombinasi tekanan teknikal domestik dan sentimen penyesuaian bobot portofolio global.
"Pasar masih dibayangi risk-off akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, pelemahan rupiah, serta aksi jual asing yang kembali agresif di saham big caps. Efek lanjutan rebalancing MSCI juga membayangi pasar IHSG hari ini," ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Reydi Octa melanjutkan bahwa langkah tegas dari FTSE mengenai penghapusan saham berkonsentrasi tinggi turut memperberat pergerakan indeks. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi aksi jual lanjutan dari reksa dana pasif.
"Selain itu, lanjutnya, pengumuman dari FTSE yang memberikan sinyal keras akan menghapus saham-saham High Shareholding Concentration (HSC), sehingga kekhawatiran terhadap tekanan jual akibat keluarnya dana asing dan passive funds semakin menekan psikologis pasar," ujar Reydi Octa.
Faktor domestik dan global ini diproyeksikan akan menguji level psikologis baru bagi pergerakan indeks sepanjang pekan ini. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengemukakan analisis teknikal mengenai potensi arah pergerakan IHSG selanjutnya.
"Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500- 6.550 pada pekan ini," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas.
Kekhawatiran pasar modal juga dipicu ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang mengerek yield US Treasury tenor 30 tahun ke level 5,1 persen. Pelaku pasar kini menunggu rilis FOMC Minutes The Fed untuk mencari arah kebijakan suku bunga global setelah data inflasi AS melampaui prediksi, di tengah kekecewaan pasar atas pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir tanpa kesepakatan besar.
Sentimen bursa global pada perdagangan Jumat (15/5) pekan sebelumnya tercatat kompak melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 1,81 persen, FTSE 100 Inggris turun 1,71 persen, DAX Jerman turun 2,07 persen, dan CAC 40 Prancis turun 1,60 persen. Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,07 persen ke 49.526,17, S&P 500 berkurang 1,24 persen ke 7.408,50, dan Nasdaq Composite terpangkas 1,54 persen ke posisi 29.125,20.
Pelemahan ini berlanjut ke bursa regional Asia pada Senin pagi, di mana indeks Nikkei turun 0,96 persen ke 60.817,50, Shanghai melemah 0,21 persen ke 4.126,51, Hang Seng terkoreksi 1,45 persen ke 25.587,50, dan Straits Times melemah 0,33 persen ke level 4.972,5. Sementara dari dalam negeri, FTSE Russell memutuskan menunda pemeringkatan ulang indeks penuh serta penambahan saham baru (IPO) hingga review September 2026, dan pelaku pasar kini menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (20/5) yang diperkirakan mempertahankan BI Rate di posisi 4,75 persen.