Juru sembelih halal asal Jakarta Selatan, Cang Adus Salim, mendemonstrasikan teknik penanganan daging kurban yang efektif dalam pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) di Kota Tangerang Selatan pada Kamis (14/5/2026). Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan keahlian petugas dalam menghadapi prosesi kurban sesuai standar syariat.
Dilansir dari Megapolitan, Cang Adus menekankan bahwa kecepatan merupakan aspek krusial dalam menyembelih hewan agar prosesnya berlangsung efektif dan meminimalisir rasa sakit pada sapi. Pria berusia 49 tahun tersebut menjelaskan bahwa momen kehilangan kesadaran pada hewan terjadi sangat singkat saat proses pemotongan.
“Karena gini, menyembelih itu hanya butuh 3 detik, untuk selesai penyembelihan karena di momen itu hanya tak sadar. Karena, itu sapi bergerak sebelum selesai (mati),” kata Cang Adus.
Penggunaan alat yang tepat menjadi perhatian utama Cang Adus yang lebih memilih menggunakan pisau daripada golok dalam menangani hewan besar. Menurutnya, penggunaan pisau memberikan kontrol tenaga yang lebih stabil sehingga ia pernah menangani sapi jenis limosin dengan bobot lebih dari satu ton.
“Ada, kalau saya umumnya untuk menyembelihan lebih menggunakan pisau. Kenapa? karena powernya besar,” ujarnya.
Cang Adus menjelaskan keunggulan teknis pisau yang tidak membutuhkan dorongan ekstra berlebih seperti penggunaan golok pada umumnya.
“Kalau pisau, menurut saya ini powernya enak. Saya pernah, potong sapi limosin 1 ton up itu pakai pisau,” tutur Cang Adus.
Motivasi Cang Adus mendalami profesi ini berawal dari keprihatinannya saat melihat praktik penyembelihan di masjid-masjid yang dinilai kurang memerhatikan adab. Ia mengaku sering melihat etika penyembelihan yang terabaikan, termasuk perilaku petugas di rumah potong hewan.
“Awalnya saya bukan penyebelih, tapi saya senang melihat orang menyembelih hewan kurban,” kata Cang Adus.
Kekecewaan muncul saat ia melihat petugas menyembelih hewan sembari merokok, yang menurutnya dapat mengganggu kekhusyukan dalam membaca doa atau tasmiah.
“Menurut saya bagaimana dia membaca tasmiahnya, baca doa bismillahnya, kalau rokok masih ada,” ujar Cang Adus.
Selain masalah etika, aspek teknis seperti kelayakan alat potong dan kepantasan pakaian penyembelih juga menjadi faktor yang mendorongnya bergabung dengan Juleha Indonesia pada 2017.
“Nah di situlah ketertarikan saya untuk mendalami ilmu juru sembelih halal,” ucap Cang Adus.
Bekal sertifikasi dari MUI Tangerang Selatan pada 2019 akhirnya membawa Cang Adus bekerja sebagai tenaga profesional di Brunei Darussalam pada 2021 untuk menangani hewan kurban milik Sultan Hassanal Bolkiah.
“Alhamdulillah dengan bekal itu, pengajarnya yaitu Pak KH Hasan Mustofi dari MUI Tangsel itu membekali kami dengan sebuah sertifikat,” kata Cang Adus.
Cang Adus merupakan satu dari empat orang yang lolos seleksi daring dari total 80 peserta internasional untuk bertugas di Brunei selama masa pandemi.
“Mereka punya PR 400 ekor milik Sultan Hassanal Bolkiah,” ujarnya.
Keberhasilannya menempati peringkat pertama dalam proses wawancara tersebut memberinya kesempatan mengasah ilmu anatomi sapi atau teknik butchery lebih mendalam.
“Alhamdulillah dari 80 orang yang diinterview, lolos hanya 4. Dan saya orang pertama yang lolos,” kata Cang Adus.
Selama periode bekerja di luar negeri hingga 2023, ia mencatat pengalaman menangani karkas sapi dan domba dalam jumlah yang masif.
“Kalau kita ingin memilah-milah daging dari sapi yang telah disembeli, dari karkas sapi yang sudah disiapkan, itu kita potong, kita pisahkan dari tulang dengan metode butcher,” tutur Cang Adus.
Total hewan kurban yang pernah ditanganinya di Brunei mencapai ratusan ekor sapi dan ribuan domba selama masa tugasnya.
“Saya punya pengalaman di Brunei itu hidulana sampai 485 sapi. Dombanya sampai 2000,” ujar Cang Adus.
Sebagai penutup, ia mengingatkan risiko keselamatan bagi petugas jika menggunakan alat yang tumpul, yang dapat memicu hewan untuk memberontak hebat.
“Ada penyembelih ketika menyembeli itu goloknya tidak tajam. Sehingga hewan sudah merasakan merontak, kesakitan, lalu berontak,” kata Cang Adus.
Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena potensi benturan atau amukan hewan yang dapat mencederai masyarakat di lokasi penyembelihan.
“Itu bisa melukai orang lain,” ujar Cang Adus.
Peningkatan kompetensi juru sembelih di lingkungan masjid dianggap sangat penting karena hewan kurban merupakan amanah yang harus diperlakukan dengan keahlian memadai.
“Hewan kurban adalah titipan. Mestinya ditangani oleh orang-orang yang memiliki skill yang cukup memadai,” tutur Cang Adus.