Petugas Ungkap Tingkat Kematian Mangrove Angke Kapuk Capai 50 Persen

Petugas Ungkap Tingkat Kematian Mangrove Angke Kapuk Capai 50 Persen

Upaya konservasi di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, menghadapi tantangan besar karena tingkat kegagalan penanaman bibit mangrove relatif tinggi pada Minggu (10/5/2026). Dilansir dari Lestari, jumlah bibit yang mampu bertahan hidup hingga dewasa seringkali tercatat di bawah 50 persen.

Petugas dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem menjadi faktor utama rendahnya kelangsungan hidup tanaman tersebut. Kematian bibit biasanya ditandai dengan warna daun yang menguning dan tampak layu dibandingkan bibit sehat yang terlihat segar.

"Dari dari 100 bibit, 50 (di antaranya) yang hidup itu sudah bagus. 50 persen," ujar petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, Yana.

Guna menekan angka kematian, petugas kini hanya menanam bibit yang telah mencapai usia enam bulan agar struktur akar lebih kuat. Pemilihan varietas seperti bakau kurap (Rhizophora mucronata) juga diprioritaskan untuk area yang lebih dekat dengan laut karena daya cengkeram akarnya yang lebih baik.

"Kondisi dan tanahnya, karena kadar garam pH tanah, mungkin dari dari polybag kecil ke tanam langsung itu adaptasinya mungkin dari sanalah mangrove itu bisa hidup," tutur Yana.

Proses adaptasi bibit dari media polybag ke lahan tanam permanen membutuhkan waktu lama karena pertumbuhan mangrove cenderung lebih lambat daripada tanaman darat. Petugas harus melakukan pemantauan berkala setiap tiga bulan untuk menyulam atau menanam ulang bibit yang mati di lokasi yang sama.

"Di situ ada sungai dan nanti tanaman itu kami pakai rakit. Jadi, masih ada aliran air tidak terlalu surut, tidak terlalu tinggi juga. Kalau terlalu tinggi mangrovenya masih terendam. Kalau terlalu surut rakit enggak bisa mencapai lokasi," ucap Yana.

Selain faktor alam, tumpukan sampah plastik yang terbawa aliran Kali Adem dan Cengkareng Drain turut menghambat pertumbuhan bibit. Meskipun terdapat petugas Penyedia Jasa Layanan Perorangan (PJLP) yang melakukan pembersihan harian, sampah terus datang terbawa arus pasang air laut.

"Walaupun di kami ini ada PJLP-nya (Penyedia Jasa Layanan Perorangan) dan pemeliharaannya tiap hari bergelut dengan sampah, tapi itu ya tetep saja namanya juga alam ya kalau lagi pasang air- sampahnya ikut ke dalam," tutur Yana.

Artikel terkait

Rekomendasi