Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang atau setara 4,68 persen dari total angkatan kerja pada Rabu (13/5/2026). Data yang dilansir dari Suara tersebut menunjukkan tantangan penyerapan tenaga kerja di tengah fenomena kesenjangan kesiapan kerja.
Kondisi pasar kerja saat ini dipengaruhi oleh besarnya selisih antara kualifikasi kandidat dengan kebutuhan spesifik perusahaan. TalentGO.AI mengidentifikasi situasi ini sebagai fenomena 'The Great Preparation Gap' yang menghambat pencari kerja meski memiliki kemampuan relevan.
CEO & Founder TalentGO.AI, Valencia Gabriella menjelaskan bahwa besarnya skala pencari kerja yang belum terserap menunjukkan adanya hambatan dalam proses pencocokan kandidat. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia.
"Meski angka pengangguran turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, skala pencari kerja yang masih belum terserap menunjukkan bahwa proses pencocokan antara kandidat dan kebutuhan perusahaan tetap menjadi pekerjaan besar bagi ekosistem ketenagakerjaan," ujar Valencia Gabriella, CEO & Founder TalentGO.AI.
Valencia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar mencari lowongan, melainkan memahami standar penilaian perusahaan. Banyak pelamar gagal pada tahap seleksi karena tidak mampu mengomunikasikan kompetensi dan nilai diri melalui portofolio maupun jawaban wawancara.
"Padahal, dalam rekrutmen modern, kualitas kesiapan justru menjadi pembeda. CV harus bisa menunjukkan relevansi, ekspektasi gaji harus berbasis data pasar, dan saat interview kandidat perlu mampu menjelaskan pengalaman dengan struktur yang masuk akal bagi rekruter," kata Valencia.
Pemanfaatan teknologi seperti Applicant Tracking System (ATS) oleh perusahaan turut memperketat persaingan rekrutmen. Riset menunjukkan bahwa sekitar 80 persen lamaran gugur di tahap awal karena dokumen CV yang tidak ramah sistem otomatisasi tersebut.
Optimalisasi dokumen lamaran, termasuk penyesuaian judul pekerjaan, diklaim dapat meningkatkan peluang panggilan wawancara hingga 3,5 kali lipat. Kedepannya, penggunaan kecerdasan buatan diprediksi akan menjadi pendamping karier untuk membantu negosiasi gaji dan peningkatan keterampilan industri.