Jaringan Toko Kelontong SRC Sumbang Omzet Ritel Rp251 Triliun

Jaringan Toko Kelontong SRC Sumbang Omzet Ritel Rp251 Triliun

Jaringan toko kelontong Sampoerna Retail Community (SRC) mencatatkan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi Indonesia melalui perolehan omzet gabungan mencapai puluhan triliun rupiah. Data ini mem memosisikan toko kelontong sebagai pilar strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, seperti dilansir dari Money.

Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto memaparkan kontribusi besar tersebut saat berbicara dalam sebuah acara bincang-bincang pada Kamis (21/5/2026). Sebanyak 250.000 toko kelontong yang tergabung dalam SRC di seluruh Indonesia berhasil mencatatkan total omzet sekitar Rp251 triliun, atau setara dengan 9,5 persen dari PDB ritel nasional non-mobil dan sepeda motor.

"Ini sangat strategis toko kelontong dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," kata Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Pencapaian besar ini diklaim sebagai buah dari komitmen SRCIS dalam mendampingi para pelaku usaha lokal. Romulus menegaskan bahwa intervensi teknologi dan ekosistem bisnis yang tepat menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan usaha mikro tersebut.

"Membantu tidak hanya KUR, tentunya dengan insentif daripada bunga yang lebih rendah akan sangat menguntungkan dan membantu Bapak/Ibu toko kelontong," ucap Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Selain masalah permodalan, penurunan daya beli masyarakat saat ini juga memaksa para pemilik toko kelontong untuk adaptif. Paguyuban SRC didorong untuk terus menelurkan ide-ide kreatif komersial demi menjaga arus konsumen di toko mereka.

"Inovasi produk mana yang relevan saat ini, sering juga membuat bundle-bundle paket, atau apa pun itu, sehingga menarik konsumen dan trafiknya bisa lebih meningkat," ucap Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Program ini juga diklaim membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar toko melalui penyerapan produk lokal. Distribusi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetangga dilaporkan naik hingga 24 persen, dengan omzet internal toko SRC melonjak dari Rp5,6 triliun menjadi Rp12,9 triliun per tahun.

"Tentunya lewat digitalisasi juga melalui aplikasi Ayo by SRC untuk memesan produk," terang Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Melihat pertumbuhan yang cepat sejak pertama kali dirintis di Medan dengan 57 toko, manajemen kini mengalihkan fokus operasional. Peningkatan kualitas pelayanan dan tata kelola toko menjadi prioritas utama ketimbang sekadar menambah kuantitas jaringan.

"Jadi kalau dihitung dibagi 18 tahun itu kan running rate-nya sekitar 13.000 (toko). Tentunya kalau kita akselerasi cepat yang kita butuhkan saat ini itu adalah penataan supaya quality daripada akselerasinya itu lebih bagus," ucap Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Sikap hati-hati ini diambil guna memastikan fondasi bisnis dari ratusan ribu mitra kelontong mereka tetap kokoh secara jangka panjang.

"Kita harus memastikan bahwa 250.000 toko kelontong ini benar-benar berkualitas. Itu prioritas utama kami sebelum berpikir untuk scale up yang lebih besar lagi," ucap Romulus Sutanto, Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS).

Langkah SRC mendapat apresiasi dari pemerintah yang menilai inisiatif swasta ini sejalan dengan struktur makroekonomi nasional. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.

"Yang dilakukan SRC selama 18 tahun ini tidak hanya mengakselerasi, tetapi juga scale up usahanya," ucap Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan.

Pemerintah menilai bahwa perbaikan tata letak barang, manajemen, dan pembukuan keuangan toko kelontong telah memberikan posisi tawar yang lebih baik bagi pedagang tradisional dalam rantai pasok.

"Serta memfasilitasi penyaluran dari prinsipal maupun dari distribusi kepada toko-toko kelontong," ucap Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan.

Kondisi ekosistem yang sehat ini dinilai berhasil mendorong para pedagang untuk berani melakukan diversifikasi produk di luar barang kelontong utama.

"Saya pikir lebih dari 40 persen toko kelontong ini membuat lini usaha yang baru, apakah warung makan, jualan token atau pulsa dan segala macam," ungkap Iqbal Shoffan Shofwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan.

Fenomena pertumbuhan ini dinilai menarik oleh pengamat ekonomi, mengingat sektor UMKM justru menunjukkan tren produktivitas positif di tengah ketatnya penyaluran pembiayaan dari industri perbankan nasional.

"Ini berkebalikan sebenarnya dengan penyaluran kredit ke UMKM yang merosot," ujar Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios).

Resiliensi sektor informal ini dinilai bukan hal baru karena sektor ini digerakkan langsung oleh transaksi riil masyarakat di tingkat akar rumput, mirip dengan kondisi saat krisis 1998, 2008, dan pandemi lalu.

"Karena apa? Karena ekonomi yang ada di UMKM itu adalah ekonomi riil," ungkap Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios).

Kendati tangguh, masalah klasik seperti ketiadaan agunan dan rumitnya proses administrasi perbankan dinilai masih membatasi ruang gerak pelaku UMKM, terutama bagi kelompok perempuan pengusaha.

“Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat. Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” urai Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios).

Artikel terkait

Rekomendasi