Bisnis.com, JAKARTA - Transformasi teknologi dan digitalisasi di sektor tambang dinilai semakin krusial untuk mendukung program hilirisasi nasional. Di sisi lain, tingginya kebutuhan investasi dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan besar bagi industri.
Chairman Ikatan Alumni Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (IA-MET ITB) Erika Silva mengatakan, digitalisasi di sektor tambang telah mengubah pola industri yang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga kerja manual menjadi lebih berbasis teknologi dan efisiensi operasional.
Menurutnya, penerapan teknologi di sektor tambang tidak hanya berdampak pada efisiensi perusahaan, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang lebih luas melalui peningkatan produktivitas dan penerimaan negara. Hal tersebut pun turut berperan dalam mendukung program hilirisasi pemerintah.
“Dengan perkembangan teknologi, kita bisa menjaga ekonomi, kita bisa menurunkan cost, kita bisa meningkatkan pendapatan negara,” ujarnya dalam Media Luncheon METCONNEX 2026 di Jakarta pada Kamis (7/5/2026).
Dia mencontohkan penggunaan sistem remote operation di PT Freeport Indonesia dalam aktivitas penambangan bawah tanah. Teknologi tersebut memungkinkan aktivitas operasional tetap berjalan tanpa menempatkan pekerja secara langsung di area berisiko tinggi.
Selain itu, sejumlah perusahaan tambang mulai mengadopsi otomatisasi (automation) untuk mendukung efisiensi peralatan produksi. Teknologi tersebut digunakan untuk memprediksi ketebalan alat maupun pipa agar potensi kerusakan dapat dideteksi lebih awal.
“Jadi kita bisa melakukan preventive maintenance early sebelum itu failure sehingga kita bisa menekan downtime yang akan menyebabkan multiplier effect seperti cost yang semakin besar,” kata Erika.
Penguatan transformasi digital di sektor tambang dinilai semakin penting di tengah ambisi pemerintah mempercepat hilirisasi mineral dan batu bara. Peningkatan kapasitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri membutuhkan industri hulu yang semakin efisien, terukur, dan kompetitif.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar mengatakan, transformasi teknologi serta digitalisasi memungkinkan rantai pasok mineral semakin terintegrasi, mulai dari aktivitas tambang di hulu hingga industri pengolahan dan pemurnian di hilir.
Menurutnya, transformasi tersebut membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan kualitas produk mineral meningkat sehingga memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
“Dampaknya terhadap hilirisasi cukup besar karena teknologi memungkinkan rantai pasok mineral lebih terintegrasi dari hulu hingga industri pengolahan,” katanya.
Bisman menilai arah transformasi sektor pertambangan ke depan perlu diarahkan pada penggunaan teknologi tinggi yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon. Langkah tersebut penting agar hilirisasi tidak hanya berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi mampu mendorong Indonesia masuk ke industri manufaktur mineral bernilai tambah tinggi.
Dia mengatakan, penguasaan teknologi menjadi faktor penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia sebagai eksportir bahan baku mineral.
“Indonesia harus diarahkan menguasai teknologi tinggi agar tidak hanya menjadi pengekspor bahan baku, tetapi menjadi pemain industri manufaktur mineral bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Senada, Chairman Ikatan Alumni Teknik Pertambangan ITB (IA-TA ITB) Achmad Ardianto menilai transformasi teknologi akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing sektor pertambangan Indonesia, terutama dalam mendukung hilirisasi.
Menurutnya, peningkatan efisiensi operasional akan memperbesar margin keuntungan perusahaan. Dampak lanjutannya adalah peningkatan kapasitas investasi, penerimaan pajak negara hingga kemampuan industri domestik bersaing dengan standar global.
“Efisiensi akan meningkat sehingga biaya bisa ditekan, kemudian keuntungan bisa meningkat. Keuntungan bisa meningkat, pajak akan meningkat, kemampuan perusahaan untuk tumbuh juga semakin besar,” katanya.
Dia menambahkan standardisasi teknologi juga akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas industri pertambangan nasional secara keseluruhan. Ketika standar penggunaan teknologi mulai merata, perusahaan tambang skala menengah dan kecil dinilai akan ikut menikmati efisiensi operasional dengan biaya yang lebih terjangkau.
“Pada saat standardisasi muncul di sistem ekonomi industri pertambangan di Indonesia, maka industri pertambangan di Indonesia naik kelas,” ujarnya.
Di sisi lain, percepatan transformasi teknologi di sektor tambang dinilai masih menghadapi tantangan besar. Achmad mengatakan, salah satu hambatan utama berasal dari kebutuhan investasi yang tinggi untuk mengadopsi teknologi digital dan otomasi.
Achmad mengatakan, tidak semua perusahaan tambang memiliki kemampuan finansial untuk langsung mengadopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomatisasi (automation), maupun big data analytics.
Saat ini, menurutnya, perusahaan pertambangan besar seperti Freeport, Antam, dan Amman Mineral mulai bergerak lebih cepat karena memiliki kebutuhan operasional sekaligus kapasitas investasi yang memadai.
Di sisi lain, perusahaan skala lebih kecil masih menghadapi keterbatasan pendanaan dan kesiapan sumber daya manusia.
“Tantangannya adalah biasanya yang butuh itu harus investasi untuk teknologi. Jadi tidak semua perusahaan akan mampu langsung investasi untuk menggunakan teknologi,” katanya.
Selain investasi, tantangan lain muncul dari kesiapan tenaga kerja domestik dalam mengoperasikan teknologi baru di sektor pertambangan. Penggunaan artificial intelligence, big data, hingga automation dinilai membutuhkan kompetensi baru yang belum sepenuhnya dimiliki tenaga kerja nasional.
Achmad menilai percepatan adopsi teknologi tanpa diimbangi peningkatan kapasitas SDM justru berpotensi membuka ketergantungan terhadap tenaga ahli asing.
“Kalau kita terlalu cepat menggunakan teknologi sementara kompetensi kita belum bisa mengikuti penggunaan teknologi tersebut, yang terjadi adalah inflow sumber daya manusia dari luar (asing) yang sudah biasa menggunakan teknologi itulah yang akan digunakan,” ujarnya.
Investasi Hilirisasi Sektor Minerba
Investasi hilirisasi sepanjang 2025 masih bertumpu pada sektor mineral dan batu bara. Dari total realisasi sebesar Rp584,1 triliun, porsi investasi pada sektor mineral dan batubara mencapai Rp373,1 triliun. Nikel menjadi penggerak utama di dalam subsektor ini.
| Komoditas | Nilai Investasi (Rp triliun) | Pangsa terhadap Minerba |
| ------------- | ---------------------------- | ----------------------- |
| Nikel | 185,2 | 49,6% |
| Tembaga | 65,9 | 17,7% |
| Bauksit | 53,1 | 14,2% |
| Besi Baja | 39,2 | 10,5% |
| Timah | 11,3 | 3,0% |
| Lainnya | 18,4 | 4,9% |
| Total Minerba | 373,1 | 100% |