Nasabah Perbankan Indonesia Mulai Tinggalkan Kebiasaan Miliki Banyak Rekening Bank

Nasabah Perbankan Indonesia Mulai Tinggalkan Kebiasaan Miliki Banyak Rekening Bank

Masyarakat Indonesia mulai mengubah kebiasaan manajemen keuangan dengan beralih dari penggunaan banyak rekening fisik ke fitur kantong digital di satu aplikasi perbankan untuk mengatur anggaran harian hingga investasi.

Perubahan perilaku konsumen ini dipicu oleh kehadiran layanan bank digital yang memungkinkan personalisasi pos pengeluaran secara lebih praktis. Salah satu nasabah, Dian (35), mengungkapkan keputusannya untuk memangkas jumlah rekening bank yang sebelumnya menumpuk tidak terpakai.

"Dulu lumayan banyak rekening, tapi jujur banyak juga yang akhirnya nggak kepakai, jadi cuma numpuk saja," ujar Dian, seorang ibu rumah tangga sekaligus karyawan swasta.

Dian menjelaskan bahwa integrasi berbagai kebutuhan dalam satu aplikasi seluler membuatnya tetap bisa memisahkan dana sesuai peruntukan tanpa kerumitan administratif.

"Lumayan berkurang. Sekarang cukup satu aplikasi saja, tapi tetap bisa misahin uang sesuai kebutuhan," ucapnya.

Presiden International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia, Aidil Akbar, menilai efektivitas fitur tersebut dalam membantu kedisiplinan keuangan masyarakat. Dilansir dari Money, fitur ini menyederhanakan proses penganggaran bagi mereka yang enggan menggunakan metode manual.

"Memang kantong digital itu bisa membantu orang membuat budgeting. Saya tahu ada beberapa orang yang saya kenal yang menggunakan atau memanfaatkan fitur tersebut, terutama untuk mereka yang memang kesulitan dalam mengelola keuangan atau males membuat budgeting pakai kertas. Jadi kantong-kantong itu bisa dipakai lah, baik itu mau dipakai buat ditabung, mau dipakai buat investasi, itu kepakai sama mereka," jelas Aidil pada Senin (4/5/2026).

Kendati demikian, Aidil memberikan catatan bahwa adopsi total fitur ini sangat bergantung pada kelengkapan layanan yang ditawarkan oleh masing-masing penyedia jasa bank digital.

"Tapi kalau memang ternyata layanannya ada atau produknya ada, itu sangat-sangat membantu banget. Jadi nggak perlu capek-capek buka akun di tempat lain," ucapnya.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkuat temuan pergeseran tren ini dengan mencatat lonjakan porsi rekening bank digital dari 4 persen pada Maret 2022 menjadi 22 persen pada Maret 2026. Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono, menyebutkan pertumbuhan simpanan bank digital mencapai angka dua digit per tahun selama periode 2022-2026.

"Ini menunjukkan bahwa preferensi menabung masyarakat di bank digital meningkat, namun tidak signifikan," kata Seto pada Rabu (6/5/2026).

Menurut Seto, ekosistem digital yang terintegrasi dengan lokapasar dan transportasi daring menjadi faktor kunci yang meningkatkan interaksi nasabah dengan layanan bank tersebut.

"Beberapa bank digital juga berada dalam ekosistem digital misalnya marketplace, transportasi, e-wallet, sehingga meningkatkan engagement nasabah penyimpan dengan bank," jelasnya.

Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, menyatakan bahwa inovasi fitur kantong sebenarnya mengadopsi tradisi lama masyarakat Indonesia dalam mengelola uang secara fisik.

"Kami percaya bahwa setiap uang punya tempat dan tujuan, maka kami mengembangkan fitur Kantong (pocket) di Aplikasi Jago, yang dapat dipersonalisasi hingga 60 Kantong," ucap Michael pada Selasa (5/5/2026).

Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 43,2 juta kantong telah digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi Bank Jago dengan rata-rata kepemilikan tiga kantong per individu.

“Nasabah tampaknya semakin terbiasa mengatur keuangan mereka secara aktif, sehingga fitur yang memberikan kontrol, visibilitas, dan personalisasi menjadi semakin penting,” ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi