Truk Sampah DKI Jakarta Mengular di Siliwangi Picu Kemacetan dan Jalan Licin

Truk Sampah DKI Jakarta Mengular di Siliwangi Picu Kemacetan dan Jalan Licin

Arus lalu lintas di sepanjang Jalan Siliwangi menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, mengalami gangguan akibat antrean panjang armada pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.

Kondisi yang dilansir dari Megapolitan ini menyebabkan kemacetan lalu lintas yang signifikan, terutama pada jam-jam sibuk, serta mengganggu aktivitas harian warga setempat maupun pengguna jalan yang melintas.

Selain kemacetan, antrean kendaraan tersebut menimbulkan aroma tidak sedap yang menyengat akibat truk berhenti dalam durasi yang cukup lama di jalanan.

Tetesan air lindi dari muatan truk sampah juga tampak mengalir ke permukaan aspal, meninggalkan jejak basah, dan menyebabkan sebagian ruas jalan menjadi licin sehingga membahayakan para pengendara sepeda motor.

Penumpukan armada pengangkut sampah ini terjadi sebagai dampak dari peristiwa longsor yang melanda salah satu zona aktif di TPST Bantargebang pada Maret 2026 lalu.

Pasca-insiden tersebut, pengelola kawasan pengolahan sampah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini menerapkan sejumlah penyesuaian operasional yang lebih ketat.

Para sopir truk kini harus menghadapi waktu tunggu yang lebih lama karena adanya pembatasan titik buang, pengaturan ritasi, serta pemeriksaan jalur demi menjaga keselamatan kerja.

Prosedur baru ini menyebabkan antrean kendaraan kerap tidak tertampung dan meluber hingga ke bahu jalan di sekitar pintu masuk kawasan Bantargebang.

Pembatasan Kuota Ritasi dan Sistem Lalu Lintas Internal

Merespons situasi tersebut, Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan bahwa antrean dipicu oleh proses penataan dan pemulihan kawasan yang masih berjalan setelah peristiwa longsor.

Pihaknya kini mengutamakan keselamatan petugas serta pengemudi melalui berbagai kebijakan pembatasan di lapangan.

“Saat ini kami mengedepankan prinsip safety first. Salah satunya melalui pembatasan kuota ritasi sampah yang masuk sekitar 700 rit per hari,” ujar Dudi dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).

Manajemen DLH membagi kuota tersebut ke dalam tiga shift operasional yang disesuaikan dengan kapasitas area parkir serta titik pembuangan yang aman.

Langkah mitigasi lain yang diambil adalah mengurangi jumlah titik bongkar muat aktif guna menekan beban tonase sampah di area pembuangan.

“Jumlah titik buang aktif juga dibatasi dari sebelumnya lima titik menjadi empat titik,” kata Dudi.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk menekan risiko pergeseran material sampah dan menjamin keselamatan seluruh pekerja di lokasi.

Pengawasan Jembatan Timbang dan Penanganan Cuaca

Guna mengendalikan waktu tunggu di jembatan timbang dan area pembuangan, DLH DKI Jakarta memperketat sistem lalu lintas internal dengan menyiagakan personel di titik-titik krusial.

“Ini dilakukan guna mengatur pergerakan armada agar antrean kendaraan dan waktu tunggu di jembatan timbang maupun area pembuangan dapat lebih terkendali,” ujar Dudi.

Faktor cuaca juga menjadi perhatian khusus, di mana operasional pembuangan akan dihentikan sementara waktu jika terjadi hujan lebat.

“Untuk kondisi tertentu seperti hujan deras, operasional titik buang akan dihentikan sementara hingga kondisi dinyatakan aman,” kata dia.

Hingga saat ini, proses penguatan lereng, penataan terasering, serta perbaikan infrastruktur penunjang masih terus dilakukan oleh tim teknis menggunakan alat berat.

Dudi menegaskan bahwa aktivitas pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang secara umum masih berada dalam kondisi yang relatif normal dan terkendali.

“Pasca longsor, kondisi antrean kendaraan menuju titik buang di TPST Bantargebang saat ini relatif normal dan terkendali,” ujar Dudi.

Artikel terkait

Rekomendasi