Trump Hentikan Operasi Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak Dunia

Trump Hentikan Operasi Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan sementara operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz pada Rabu (6/5/2026) guna memberikan ruang bagi potensi kesepakatan damai dengan Iran. Kebijakan ini memicu penurunan harga minyak mentah Brent dan WTI selama dua hari perdagangan berturut-turut, sebagaimana dilansir dari Suara.

Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat merosot US$1,89 atau sekitar 1,7 persen menuju level US$107,98 per barel pada perdagangan Rabu pagi. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah pada sesi sebelumnya komoditas tersebut sudah anjlok hingga 4 persen di pasar internasional.

Kondisi serupa dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang melemah US$1,83 atau 1,8 persen ke posisi US$100,44 per barel. Meski mengalami koreksi teknis, nilai kedua jenis minyak tersebut terpantau masih bertahan di atas level psikologis US$100 per barel akibat sisa ketidakpastian pasar.

Langkah de-eskalasi ini diumumkan langsung oleh Donald Trump melalui media sosial pribadinya setelah adanya klaim kemajuan positif dalam penyusunan draf perjanjian dengan pihak Teheran. Trump memutuskan untuk menangguhkan operasi militer bertajuk "Project Freedom" yang sebelumnya bertujuan mengawal navigasi di kawasan strategis tersebut.

"Kami telah sepakat bersama bahwa, meskipun Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan ... akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat guna melihat apakah Perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani atau tidak," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.

Keputusan penundaan pengawalan kapal ini dirilis hanya berselang beberapa jam setelah Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, memberikan keterangan pers terkait strategi perlindungan tanker. Trump menegaskan bahwa walaupun operasi pengawalan berhenti, blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran tetap dijalankan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

Analis melihat kebijakan ini sebagai sinyal positif bagi kembalinya stabilitas pasokan energi global dari wilayah Teluk Persia. Penurunan ketegangan diharapkan mampu membebaskan jalur logistik krusial yang sempat terhambat akibat konflik militer beberapa waktu terakhir.

"Hal ini menandakan potensi penurunan ketegangan dan meningkatkan harapan untuk pembebasan kapal-kapal yang terdampar di Teluk, yang secara bertahap dapat mengembalikan pasokan ke pasar," ujar Anh Pham, spesialis riset senior untuk komoditas minyak di LSEG.

Namun, Pham memberikan catatan bahwa proses pemulihan rantai pasok energi internasional tidak akan terjadi secara instan meski kesepakatan damai tercapai. Dibutuhkan masa transisi sebelum arus perdagangan kembali normal sepenuhnya, yang menjadi alasan harga minyak masih enggan turun jauh di bawah US$100.

Di sisi lain, kejatuhan harga minyak dunia tertahan oleh data fundamental dari Amerika Serikat yang menunjukkan penyusutan stok domestik secara signifikan. Berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 1 Mei, cadangan minyak mentah AS turun drastis sebesar 8,1 juta barel.

Penurunan stok juga merambah ke produk turunan dengan persediaan bensin yang merosot 6,1 juta barel serta produk distilat yang berkurang 4,6 juta barel. Angka-angka ini mencerminkan pengetatan pasokan fisik di saat kilang minyak mulai menguras cadangan internal mereka akibat kendala logistik sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi