Kegagalan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah global pada Senin (11/5/2026) setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan pesimistis. Dilansir dari Suara, harga minyak Brent melonjak 2,88 persen ke level US$ 104,21 per barel akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi ini terjadi secara agresif seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi di jalur pelayaran internasional. Data pasar menunjukkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turut menguat 2,78 persen ke posisi US$ 98,07 per barel, bahkan sempat menyentuh angka psikologis US$ 105,99 pada tengah sesi.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa kesepakatan damai yang diupayakan saat ini tidak menunjukkan kemajuan berarti. Penolakan terhadap jawaban terbaru Iran atas proposal damai AS menjadi titik balik sentimen pasar yang sebelumnya sempat membaik.
"on life support" ujar Donald Trump, Presiden AS saat menggambarkan status gencatan senjata yang tengah berjalan.
Presiden Trump menambahkan bahwa tuntutan atau respons yang diberikan oleh pihak Iran tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintahannya. Hal ini menutup peluang normalisasi jalur pelayaran dalam waktu dekat.
"tidak dapat diterima" kata Donald Trump, Presiden AS merujuk pada respons terbaru dari pihak Iran.
Situasi di lapangan menunjukkan dampak nyata dari konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan tersebut. Saudi Aramco melaporkan hilangnya pasokan minyak sebesar satu miliar barel dari pasar global dalam dua bulan terakhir, yang memperparah kelangkaan energi dunia.
| Indikator Pasar | Nilai/Posisi | Perubahan |
|---|---|---|
| Minyak Mentah Brent | US$ 104,21 | +2,88% |
| Minyak WTI | US$ 98,07 | +2,78% |
| Produksi OPEC+ | 20,04 juta barel/hari | -830.000 barel/hari |
Kondisi keamanan di Selat Hormuz memaksa sejumlah kapal tanker raksasa menggunakan strategi navigasi rahasia untuk menghindari serangan. Di saat yang sama, aliansi OPEC+ mencatatkan penurunan produksi ke level terendah dalam dua dekade terakhir akibat terganggunya jalur ekspor di medan tempur.
Di tengah tekanan inflasi kebutuhan pokok yang mulai membebani warga Amerika Serikat, Presiden Trump menyatakan bahwa dirinya tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Ia meyakini stabilitas ekonomi akan pulih secara alami tanpa perlu intervensi mendesak.
"tidak berada di bawah tekanan" pungkas Donald Trump, Presiden AS mengenai sikapnya dalam menghadapi situasi tersebut.
Sikap ini memicu gelombang kritik di dalam negeri karena kenaikan biaya logistik solar mulai berdampak pada harga pangan di supermarket. Publik Amerika Serikat kini mulai mengaitkan kesulitan ekonomi yang mereka alami dengan kebijakan luar negeri yang diambil oleh sang presiden.