Tukang Servis Jam Tangan Pinggir Jalan di Depok Bertahan Hadapi Era Digital

Tukang Servis Jam Tangan Pinggir Jalan di Depok Bertahan Hadapi Era Digital

Eksistensi jasa reparasi jam tangan konvensional di area pedestrian tetap bertahan meskipun teknologi digital berkembang pesat. Kehadiran gawai pintar memicu penurunan drastis pada jumlah pengguna arloji analog di tengah masyarakat.

Sejumlah penyedia jasa perbaikan arloji di Depok, Jawa Barat, masih konsisten mengoperasikan tempat usaha sederhana mereka di tepi jalan. Fenomena ini tetap berjalan walaupun jumlah konsumen yang datang terus mengalami penyusutan, seperti dikutip dari Megapolitan.

Satu di antara pelakon usaha ini adalah Safrizal (74), yang mendirikan tempat kerja di Jalan Pitara Raya, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Keterampilan membetulkan penunjuk waktu tersebut telah menjadi tumpuan hidupnya selama kurang lebih 40 tahun terakhir.

Melalui ruang kerja mini di atas pedestrian, ia menuntaskan beragam problem kerusakan arloji. Proses pengerjaan tersebut mengandalkan peralatan manual seperti obeng ukuran kecil, tang, gunting, pinset, serta lensa pembesar.

Keahlian mekanis ini didapatkan Safrizal secara otodidak tanpa menempuh jalur edukasi formal. Pada masa awal belajar, ia mengurai seluruh bagian mesin lalu mengingat susunan tiap elemen sebelum merakitnya kembali.

“Caranya, baut-baut jam itu saya lepas dan saya pisah-pisahkan sendiri. Sambil membongkar, saya perhatikan dan saya contek lagi posisinya tadi baut ini ditaruh di mana, yang itu di mana,” kata Safrizal saat ditemui di lapaknya, Selasa (19/5/2026).

Sebelum beralih profesi menjadi teknisi arloji, ia sempat mencari nafkah sebagai kondektur bus. Pekerjaan lama itu akhirnya ditinggalkan karena jam kerja yang menuntutnya sering sampai di rumah saat larut malam.

Menurut penuturan Safrizal, dinamika usaha reparasi saat ini mengalami pergeseran masif bila dibandingkan dengan kondisi beberapa dekade lampau. Dahulu, ia kerap menyelesaikan problem mekanis yang rumit pada sistem arloji analog.

Kini mayoritas konsumen datang hanya untuk meminta penggantian daya baterai atau membetulkan komponen IC. Perubahan jenis kerusakan ini membuat durasi penanganan menjadi lebih singkat dari biasanya.

“Penyakit jam sekarang kebanyakan cuma baterai atau IC, tidak banyak macamnya. Kerjanya lebih enak sekarang. Kalau cuma ganti baterai, paling lima menit selesai,” ujarnya.

Safrizal menjelaskan bahwa penetrasi telepon pintar berimbas pada berkurangnya kebiasaan masyarakat memakai penunjuk waktu analog. Imbasnya, intensitas kedatangan pelanggan ke tempat servis mengalami penurunan signifikan.

Pendapatan harian yang diperoleh dari usaha ini terkadang hanya mencapai kisaran Rp 20.000 sampai Rp 30.000 saja.

“Ada kalanya sehari dapat Rp 20.000, kadang Rp 30.000, ya diterima saja,” kata dia.

Walakin, ia sesekali masih didatangi oleh konsumen dari generasi muda. Mereka umumnya membawa arloji antik milik orang tua yang telah wafat untuk dikembalikan fungsinya.

“Kadang ada yang bawa jam dan bilang itu jam warisan peninggalan orangtuanya yang sudah meninggal. Saya menghargai cara mereka menghormati orangtuanya,” tutur Safrizal.

Kisah serupa melekat pada perjalanan Mang Ade (78), teknisi arloji yang beroperasi di Jalan Raya Citayam, tepat di area depan Pos Polisi Citayam. Ia mulai mendalami bidang ini pada pertengahan periode 1980-an selepas bekerja di sebuah gerai reparasi di Jakarta.

Sebelum menggeluti usaha perbaikan arloji, ia menyambung hidup dengan menjadi pedagang rokok demi mencukupi kebutuhan harian keluarga.

“Akhirnya beliau menawarkan, ‘Daripada dagang rokok ribet, mau tidak belajar jam? Pikirkan dulu.’ Akhirnya Bapak mau,” kata Ade.

Ade menceritakan bahwa teknik penguasaan mesin jam dilakukan lewat metode bongkar pasang komponen mekanis secara berulang-ulang. Proses konstan tersebut dilakukan hingga ia benar-benar memahami letak presisi dari setiap suku cadang.

Berkat ketekunan di bidang ini, Ade mampu membiayai keperluan rumah tangga, mendirikan hunian di Jakarta, hingga membeli aset tanah di Garut, Jawa Barat.

“Anak pertama bahkan sekolah di 17 Agustus Tebet yang sekolah elit dan favorit itu. Semuanya bisa dibiayai dari servis jam,” ujarnya.

Melihat fenomena ini, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memberikan analisisnya. Ia berpendapat bahwa profesi ini memiliki daya tahan karena keahlian manual dalam memperbaiki sistem mekanis belum bisa digantikan oleh instrumen teknologi modern.

“Jadi ini juga kan kalau kita lihat banyak jam tangan terutama yang mekanis atau model lama membutuhkan perbaikan yang teliti dan dikerjakan secara manual oleh orang-orang yang ahli,” kata Rakhmat saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa.

Terdapat sejumlah faktor yang membuat publik tetap memilih opsi reparasi arloji lama. Pertimbangan tersebut meliputi aspek ekonomi, jaminan mutu barang, hingga ikatan emosional atau nilai sentimental.

“Jam tangan bisa menjadi kenang-kenangan dari orangtua, hadiah dari orang penting, atau simbol momen tertentu dalam hidup seseorang,” ujar Rakhmat.

Ketangguhan para penyedia jasa ini juga dipandang sebagai representasi dari kemampuan sektor usaha mikro dalam beradaptasi dengan perubahan zaman. Peluang keberlanjutan profesi ini kian terbuka seiring munculnya tren apresiasi terhadap barang klasik serta menguatnya budaya memperbaiki barang.

Artikel terkait

Rekomendasi