Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah menyiapkan pendistribusian Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram sebagai alternatif energi rumah tangga mulai Mei 2026. Langkah strategis ini bertujuan menekan ketergantungan impor LPG nasional yang saat ini mencapai 80 persen serta menghemat devisa negara hingga Rp137 triliun.
Pengembangan CNG untuk skala kecil kini memasuki tahap modifikasi teknis karena karakteristik tekanan gas yang sangat tinggi. Pemerintah menargetkan validasi keamanan tabung ini rampung dalam kurun waktu tiga bulan sebelum kebijakan konversi masif diberlakukan secara nasional.
"Nah untuk yang 3 kg memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar. Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi," terang Bahlil, Menteri ESDM sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com.
Kepastian teknis menjadi syarat mutlak bagi pemerintah sebelum mengalihkan konsumsi masyarakat ke bahan bakar berbasis gas domestik ini. Bahlil menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku dalam negeri menjadi keunggulan utama CNG dibandingkan LPG.
"Kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi. Sebab apa? CNG ini bahan bakunya ada semua di kita. C1, C2 gas," ungkap Bahlil.
Efisiensi harga menjadi daya tarik utama karena CNG diklaim 30 persen lebih murah daripada harga pasar LPG. Menteri ESDM juga mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang merumuskan skema subsidi agar energi ini tetap terjangkau bagi masyarakat kecil.
"Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya," terang Bahlil.
Sektor swasta melalui Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menyambut positif rencana tersebut demi memperkuat ketahanan energi. Ketua Umum Aspebindo Anggawira menekankan pentingnya peta jalan jangka panjang agar investasi infrastruktur yang padat modal memiliki kepastian pasar.
Asosiasi Perusahaan Liquid & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) juga menyoroti perlunya konsistensi regulasi bagi para investor. Ketua Umum APLCNGI Dian Kuncoro menyatakan pelaku usaha membutuhkan jaminan agar ekosistem bisnis CNG dapat tumbuh berkelanjutan.
"Pihaknya berharap konsistensi dari kebijakan pemerintah yang akan kita jalankan ini. Jadi pengusaha pun sudah pasti untuk investasinya," kata Dian Kuncoro dilansir dari tv.kontan.co.id.
Penyebaran CNG saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera karena ketergantungan pada pipa gas utama. Infrastruktur pengisian atau filling station perlu diperluas secara merata untuk mendukung distribusi tabung 3 kilogram ke wilayah yang lebih luas.