Pemerintah Uji Coba CNG Tabung 3 Kg Mulai Tahun Ini

Pemerintah Uji Coba CNG Tabung 3 Kg Mulai Tahun Ini

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadwalkan uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram mulai tahun 2026 sebagai upaya menekan angka impor LPG yang tinggi.

Langkah ini diambil guna mencari solusi atas ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang mencapai 7 juta ton setiap tahunnya, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa proyek percontohan tersebut segera dilaksanakan dalam waktu dekat untuk melihat efektivitas penggunaan gas alam terkompresi tersebut di masyarakat.

"Tahun ini sudah akan ada beberapa pilot project. Tahun ini sudah ada," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Implementasi kebijakan ini masih dalam tahap pengkajian mendalam terkait aspek keamanan dengan melibatkan Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Ketenagakerjaan.

Laode menjelaskan bahwa kehadiran CNG tabung 3 kg diposisikan sebagai pilihan tambahan bagi konsumen dan prosesnya dilakukan secara bertahap tanpa langsung menghapus peredaran LPG di pasar.

"Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuman kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. Yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya," terang Laode.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan fokus pemerintah dalam membedah potensi energi alternatif mengingat keterbatasan produksi gas propana dan butana yang merupakan bahan baku utama LPG di dalam negeri.

"Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya, dan salah satu problem kita di Indonesia kenapa tidak bisa kita membangun industri LPG adalah bahan baku LPG itu C3, C4 dan itu produksi di kita tidak terlalu banyak," ujar Bahlil usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).

Bahlil menyiapkan dua strategi utama untuk mengatasi masalah ini, yaitu transisi ke bahan bakar dimetil eter (DME) serta optimalisasi CNG yang bahan bakunya tersedia melimpah di Indonesia.

Penggunaan teknologi tekanan tinggi menjadi kunci agar gas cair jenis C1 dan C2 tersebut dapat dimanfaatkan secara aman dan efisien dalam kegiatan sehari-hari masyarakat.

"(CNG) dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya sehingga pemakaiannya itu bisa baik," jelas Bahlil.

Artikel terkait

Rekomendasi