Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pengunduran diri dari keanggotaan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada awal Mei 2026. Langkah strategis ini diambil untuk mengakhiri pembatasan kuota produksi yang selama ini menghambat ekspansi sektor energi nasional negara tersebut.
Dilansir dari Money, keputusan UEA meninggalkan organisasi yang telah diikutinya selama hampir 60 tahun tersebut memicu kekhawatiran atas melemahnya kendali OPEC terhadap pasar minyak dunia. Negara Teluk ini kini memilih untuk memproduksi minyak secara mandiri guna memenuhi target investasi besar-besaran.
Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap kebutuhan pasar dan komitmen kepada para pemangku kepentingan di sektor migas.
"UEA berutang kepada investor untuk memproduksi tanpa pembatasan," kata Al Mazrouei, dikutip dari Reuters, Rabu (6/5/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan keinginan UEA untuk melepaskan diri dari dominasi kebijakan Arab Saudi di dalam organisasi. CEO ADNOC Sultan Al Jaber menambahkan bahwa kemandirian ini sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang negara.
"Langkah strategis agar negara itu dapat mempercepat investasi energi dan meningkatkan pertumbuhan sektor migas secara mandiri," kata Al Jaber.
Hubungan antara UEA dan Arab Saudi dilaporkan merenggang akibat perbedaan pandangan mengenai kapasitas produksi. Sementara UEA ingin memanfaatkan hasil investasi infrastrukturnya, Arab Saudi tetap konsisten mendorong pemangkasan produksi demi menjaga stabilitas harga global.
Di tengah keluarnya UEA, aliansi OPEC+ mencoba mempertahankan citra kesolidan kelompok melalui kesepakatan baru. Pada 3 Mei 2026, tujuh negara anggota menyetujui kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni 2026.
"Dalam komitmen kolektif mereka untuk menstabilkan pasar minyak," demikian pernyataan resmi OPEC.
Kenaikan produksi tersebut melibatkan kontribusi dari beberapa negara utama. Arab Saudi dan Rusia masing-masing menambah 62.000 barel per hari, diikuti oleh Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
| Negara Anggota | Tambahan Produksi (Barel/Hari) |
|---|---|
| Arab Saudi | 62.000 |
| Rusia | 62.000 |
| Irak | 26.000 |
| Kuwait | 16.000 |
| Kazakhstan | 10.000 |
| Aljazair | 6.000 |
| Oman | 5.000 |
Meskipun ada kenaikan produksi resmi, sejumlah analis menilai langkah ini lebih bersifat formalitas karena gangguan distribusi di Selat Hormuz masih membayangi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang menentukan realisasi pasokan minyak di pasar internasional ke depannya.