United Tractors Bagikan Dividen Final Rp1.096 per Saham

United Tractors Bagikan Dividen Final Rp1.096 per Saham

PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan pembagian dividen final sebesar Rp1.096 per saham bagi para pemegang sahamnya setelah mencatatkan laba bersih sebesar Rp14,8 triliun pada tahun buku 2025. Pengumuman ini disampaikan di tengah tren penguatan harga saham emiten blue chip tersebut pada Kamis (16/4/2026).

Dilansir dari Stocksetup, perusahaan menetapkan total dividen tunai sebesar Rp1.663 per saham atau total Rp5,92 triliun. Jumlah ini mencakup dividen interim sebesar Rp567 per saham yang telah dibayarkan kepada investor pada Oktober 2025 lalu.

Harga saham UNTR pada penutupan perdagangan Kamis (16/4/2026) berada di level Rp31.475 per saham. Secara akumulatif, nilai saham penyedia alat berat ini telah mengalami kenaikan sebesar 4,57% sejak awal tahun dan melonjak hingga 41,62% dalam periode satu tahun terakhir.

Meskipun sentimen dividen cukup kuat, data operasional awal tahun 2026 menunjukkan adanya perlambatan. Penjualan alat berat Komatsu periode Januari-Februari 2026 turun 10,50% menjadi 869 unit, sementara volume overburden removal terkoreksi 7,49% menjadi 156,9 juta bcm.

Produksi batubara melalui PT Pamapersada Nusantara juga mengalami penyusutan 6,85% menjadi 20,4 juta ton. Selain itu, lini bisnis emas mencatatkan penurunan tajam dengan volume penjualan hanya 2.000 ounce dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 38.000 ounce.

Pihak manajemen mengidentifikasi beberapa faktor eksternal sebagai penyebab utama hambatan operasional tersebut. Sektor nikel menjadi satu-satunya penopang yang tumbuh positif sebesar 30,37% menjadi 455.000 ton.

Presiden Direktur UNTR Iwan Hadiantoro memberikan penjelasan mengenai kendala yang dihadapi perusahaan terkait regulasi dan persaingan pasar global saat ini.

"tantangan utama berasal dari keterlambatan persetujuan RKAB 2026 yang berdampak pada aktivitas produksi dan permintaan alat berat." ujar Iwan Hadiantoro, Presiden Direktur UNTR.

Perseroan kini menerapkan strategi defensif untuk menjaga stabilitas bisnis melalui diversifikasi ke sektor mineral dan energi terbarukan.

"Selain itu, persaingan dengan produk alat berat asal China juga semakin ketat." kata Iwan Hadiantoro, Presiden Direktur UNTR.

Kinerja masa depan diharapkan membaik seiring rencana pengoperasian kembali Tambang Emas Martabe pada pertengahan 2026. Selain itu, akuisisi Tambang Emas Doup diproyeksikan mulai memberikan kontribusi pada tahun 2028 mendatang.

Dari sisi pasar modal, analis memberikan catatan khusus bagi para pemegang saham terkait prospek jangka pendek dan jangka panjang emiten anggota indeks LQ45 ini.

"Namun, dalam jangka pendek investor perlu mencermati risiko perlambatan kinerja akibat kendala operasional." kata Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia.

Kekuatan arus kas perusahaan dinilai tetap menjadi daya tarik utama bagi investor meski terdapat risiko fluktuasi operasional di lapangan.

"Wafi merekomendasikan hold saham UNTR dengan target harga Rp 28.000 per saham." ujar Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi