Uruguay Hapus Visa Paspor Biasa Tiongkok untuk Dorong Ekonomi

Uruguay Hapus Visa Paspor Biasa Tiongkok untuk Dorong Ekonomi

Menteri Luar Negeri Uruguay Mario Lubetkin mengumumkan kebijakan penghapusan persyaratan visa bagi warga negara Tiongkok yang memegang paspor biasa pada Jumat, 5 Juni 2026, guna meningkatkan pariwisata dan kerja sama ekonomi.

Kebijakan baru ini dirancang oleh Kementerian Luar Negeri Uruguay untuk mempermudah perjalanan warga Tiongkok dalam rangka pariwisata, perjalanan bisnis jangka pendek, serta pertukaran antar masyarakat. Tiongkok saat ini memegang peranan krusial sebagai pasar ekspor terbesar bagi Uruguay sekaligus mitra dagang utama pada sektor infrastruktur, pertanian, pangan, dan peternakan.

Menteri Luar Negeri Uruguay Mario Lubetkin menjelaskan tujuan strategis di balik pemberlakuan kebijakan pembebasan visa tersebut.

"Yuan Tiongkok telah berkinerja baik tahun ini, baik terhadap dolar AS maupun euro." ujar Kristian Nummelin, Analis Nordea.

Langkah pelonggaran izin masuk ini diproyeksikan para pengamat mampu memberikan stimulus baru bagi industri pariwisata Uruguay yang sedang memperluas pasar di luar Amerika Latin. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mempermudah aktivitas promosi perdagangan, riset pasar, dan penjajakan peluang investasi antar pelaku usaha dari kedua belah negara.

"Diferensial suku bunga AS-Tiongkok adalah pendorong penting USD/CNY." kata Kristian Nummelin, Analis Nordea.

Di sisi lain, perkembangan mata uang Tiongkok juga menunjukkan penguatan. Nordea mencatat bahwa yuan menjadi mata uang Asia dengan performa terbaik sepanjang tahun ini terhadap Dolar dan Euro, didukung oleh surplus akun berjalan yang besar dan toleransi kebijakan Bank Rakyat Tiongkok.

"Sezeit konflik Iran dimulai, imbal hasil AS telah bergerak lebih tinggi, memperlebar spread imbal hasil terhadap Tiongkok." tutur Kristian Nummelin, Analis Nordea.

Meskipun terjadi pelebaran spread imbal hasil antara Amerika Serikat dan Tiongkok, tekanan apresiasi pada mata uang yuan dinilai tetap persisten seiring penurunan pergerakan pasangan mata uang USD/CNY.

"Namun, USD/CNY terus bergerak turun, menunjukkan tekanan apresiasi tampak persisten." ucap Kristian Nummelin, Analis Nordea.

Otoritas moneter Tiongkok juga menunjukkan sikap terbuka terhadap penguatan nilai mata uangnya di pasar global saat ini.

"Bank Rakyat Tiongkok tidak menolak tekanan penguatan ini, dan penetapan kurs harian menunjukkan bahwa apresiasi lebih lanjut dapat ditoleransi oleh para pengambil kebijakan." kata Kristian Nummelin, Analis Nordea.

Sementara itu, dinamika pasar finansial global juga diwarnai oleh spekulasi intervensi mata uang Yen oleh pemerintah Jepang akibat pelemahan terhadap Dolar AS, yang berjalan beriringan dengan sinyal apresiasi bertahap Yuan oleh Bank Sentral Tiongkok.

Artikel terkait

Rekomendasi