Utang Luar Negeri Indonesia Kuartal I 2026 Turun Menjadi US$ 433 Miliar

Utang Luar Negeri Indonesia Kuartal I 2026 Turun Menjadi US$ 433 Miliar

Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat mengalami penurunan tipis menjadi US$ 433,0 miliar. Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, jumlah tersebut menurun dari kuartal IV 2025 yang mencapai 433,4 miliar dolar AS, seperti dikutip dari Nasional.

Laju pertumbuhan ULN tahunan juga mengalami perlambatan dari 1,9% pada periode sebelumnya menjadi 0,8% secara tahunan (yoy). Perlambatan ini utamanya terjadi karena adanya penurunan jumlah utang pada sektor publik maupun swasta.

Kondisi ini membuat rasio ULN terhadap Produk Domestik Buto (PDB) menyusut menjadi 29,5% dari angka 30,0%. Struktur utang dalam negeri dinilai masih sehat karena porsi jangka panjang mendominasi hingga 85,4% dari total kewajiban.

Meskipun data menunjukkan perbaikan, Josua menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dibaca sebagai situasi tanpa risiko.

Faktor penurunan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi memperberat cicilan utang dalam denominasi rupiah bagi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor perbankan, hingga perusahaan swasta yang memegang kewajiban dolar AS.

"Risiko paling besar bukan hanya pada besaran ULN, melainkan pada kemampuan membayar kembali ketika dolar menguat, biaya pembiayaan naik, dan pendapatan ekspor tidak cukup kuat," ujarnya.

Josua menambahkan bahwa tekanan dari faktor eksternal masih besar karena mata uang dolar AS terus mendapat dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Hal ini ditambah dengan harga minyak dunia yang tetap tinggi akibat gejolak geopolitik global.

Pada sektor publik, posisi utang luar negeri dinilai relatif lebih aman. Nilai ULN pemerintah pada kuartal I 2026 bertengger di angka US$ 214,7 miliar, di mana 99,99% di antaranya merupakan utang jangka panjang. Namun, pergerakan kurs rupiah tetap memberikan dampak tersendiri.

"Pelemahan rupiah tetap menambah beban pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri dalam APBN ketika dikonversi ke rupiah," katanya.

Koreksi pada nilai mata uang rupiah akibat sentimen global tersebut juga ditengarai bisa memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yang pada akhirnya akan mendongkrak biaya pembiayaan anggaran negara.

Sementara itu, ULN sektor swasta pada triwulan I 2026 menyusut menjadi 192,6 miliar dolar AS dari posisi 194,1 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya, atau terkontraksi 1,8% secara tahunan. Porsi utang jangka panjang swasta tercatat sebesar 76,6%.

Terdapat empat sektor utama yang menguasai sekitar 80,4% dari total ULN swasta, meliputi industri pengolahan, penyediaan listrik dan gas, jasa keuangan dan asuransi, serta sektor pertambangan.

"Empat sektor ini sangat terkait dengan impor bahan baku, energi, pembiayaan proyek, dan ekspor komoditas," ujarnya.

Josua memaparkan ada empat ancaman jangka pendek yang harus diwaspadai, yakni risiko pembiayaan kembali (refinancing), ketidaksesuaian mata uang (mismatch), likuiditas valuta asing, serta pergeseran sentimen pasar keuangan.

"Risiko lain adalah mismatch mata uang ketika korporasi berutang dalam dolar tetapi pendapatannya dalam rupiah," ujarnya

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia pada April 2026 berada di level US$ 146,2 miliar, atau menyusut dari posisi Maret 2026 yang sebesar US$ 148,2 miliar. Jumlah ini setara dengan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor gabungan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Penurunan cadangan devisa tersebut terjadi akibat pemenuhan kewajiban utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah di pasar.

"Penurunan ULN adalah sinyal positif karena tidak ada lonjakan utang, tetapi pelemahan rupiah membuat risikonya lebih sensitif terhadap kondisi global," ujarnya.

Langkah mitigasi risiko nilai tukar dinilai krusial bagi korporasi dan pemerintah agar fluktuasi kurs global tidak mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik.

"Selama cadangan devisa memadai, struktur ULN jangka panjang dominan, dan korporasi disiplin mengelola risiko kurs, posisi ULN masih terkendali. Tetapi jika rupiah terus melemah tajam dan dolar tetap mahal, tekanan terhadap APBN, korporasi, dan stabilitas pasar keuangan akan meningkat," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi