Bursa saham Wall Street mencatatkan penutupan bervariasi pada Selasa (12/5/2026) waktu setempat di tengah meningkatnya inflasi Amerika Serikat dan kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran yang mengancam harga energi global. Kondisi geopolitik tersebut memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed tahun ini serta menekan kinerja saham sektor teknologi.
Dilansir dari Money, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 56,09 poin atau 0,11 persen ke level 49.760,56. Sebaliknya, pelemahan melanda indeks S&P 500 sebesar 11,88 poin atau 0,16 persen ke posisi 7.400,96, sementara Nasdaq Composite merosot 185,92 poin atau 0,71 persen ke angka 26.088,20.
Penurunan terdalam pada indeks S&P 500 dialami oleh sektor teknologi dan barang konsumsi non-esensial. Meskipun demikian, indeks S&P 500 dan Nasdaq dilaporkan masih berada di dekat level tertinggi sepanjang masa, walau investor mulai mengalihkan fokus pada valuasi pasar dan kondisi makroekonomi pasca musim laporan keuangan.
| Indeks | Penutupan | Perubahan Poin | Persentase |
|---|---|---|---|
| Dow Jones Industrial Average | 49.760,56 | +56,09 | +0,11% |
| S&P 500 | 7.400,96 | -11,88 | -0,16% |
| Nasdaq Composite | 26.088,20 | -185,92 | -0,71% |
CEO sekaligus Manajer Portofolio InfraCap di New York, Jay Hatfield, memberikan proyeksi mengenai stabilitas pasar setelah berakhirnya periode pelaporan laba perusahaan. Ia menyoroti perubahan sentimen dari optimisme menuju kekhawatiran.
"Prediksi kami adalah agar pasar stabil karena keserakahan terjadi selama musim laporan keuangan dan ketakutan setelahnya," ujar Jay Hatfield, CEO dan Manajer Portofolio InfraCap.
Hatfield menambahkan bahwa inflasi sulit untuk diredam selama gangguan pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz dalam perang Iran masih berlanjut. Menurutnya, sejarah menunjukkan keterkaitan erat antara inflasi dan harga minyak.
"Inflasi tidak akan membaik kecuali harga minyak turun. Itulah sejarah yang bisa Anda jadikan patokan," kata Jay Hatfield.
Terkait kebijakan moneter, Hatfield menilai penunjukan Kevin Warsh sebagai anggota dewan The Fed tidak akan langsung berdampak pada pelonggaran kebijakan. Ia tetap optimistis terhadap agenda reformasi yang dibawa Warsh meskipun suku bunga sulit turun.
"Warsh tidak akan mampu menurunkan suku bunga bahkan jika dia mau, dan saya rasa dia tidak akan mau," ujar Jay Hatfield.
Di sisi politik, Presiden AS Donald Trump menyatakan ketegangan dengan Iran masih tinggi dan proses diplomasi mengalami hambatan besar. Hal ini meningkatkan risiko konflik berkepanjangan yang memicu tekanan inflasi global lebih luas.
"Gencatan senjata berada dalam kondisi kritis," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump juga mengkritik posisi Teheran dalam perundingan tersebut dengan menyebut persyaratan yang diajukan tidak masuk akal bagi pihak Amerika Serikat. Penolakan Iran terhadap proposal AS membuat ketidakpastian pasar semakin meningkat.
"Iran tetap bersikeras pada sejumlah tuntutan yang disebutnya sebagai sampah," ujar Donald Trump.
Sektor kesehatan menjadi penyeimbang pasar melalui lonjakan saham Humana sebesar 7,7 persen setelah adanya kenaikan target harga dari Bernstein. Sementara itu, saham Zebra Technologies melesat 11,4 persen karena kuatnya permintaan otomasi, berbanding terbalik dengan saham Hims & Hers Health yang anjlok 14,1 persen akibat kinerja pendapatan di bawah ekspektasi.