Tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat (15/5/2026) menyusul kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global yang dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Dilansir dari Investasi, ketegangan ini mendorong investor beralih dari aset berisiko menuju obligasi pemerintah AS.
Indeks Dow Jones tercatat anjlok sebesar 1,07% ke posisi 49.526,17, sementara S&P 500 mengalami pelemahan 1,24% di level 7.408,50. Penurunan terdalam dialami oleh indeks Nasdaq yang terkoreksi hingga 1,54% dan berakhir pada angka 26.225,15 akibat tekanan harga minyak mentah.
Lonjakan harga energi ini terjadi setelah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menimbulkan keraguan atas keberlanjutan gencatan senjata. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di Selat Hormuz yang berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Kepala Strategi Pasar Slatestone Wealth, Kenny Polcari, berpendapat bahwa selama ini investor cenderung terlalu terfokus pada sentimen positif sektor teknologi tanpa memperhatikan indikator ekonomi fundamental lainnya.
"Pasar sudah bergerak terlalu jauh dan kurang memperhatikan sinyal dari pasar obligasi maupun data ekonomi," ujarnya.
Meskipun terjadi koreksi tajam, S&P 500 tetap mencatatkan penguatan mingguan untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut. Namun, Nasdaq harus menghentikan tren penguatan yang sebelumnya telah berlangsung selama enam pekan secara beruntun.
Di sisi lain, ketidakpastian pasar diperparah oleh hasil pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai minim kemajuan konkret. Managing Partner Keator Group, Matthew Keator, menyatakan bahwa ekspektasi pasar terhadap komitmen besar dari dialog tersebut belum terpenuhi.
"Pasar sebenarnya berharap ada komitmen besar dari pertemuan tersebut," kata Matthew Keator.
Ia menambahkan bahwa hasil diskusi tersebut lebih dilihat sebagai langkah awal untuk memulihkan saluran komunikasi antara Washington dan Beijing daripada sebuah solusi akhir.
Momen ini juga bertepatan dengan hari terakhir masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve. Posisi tersebut akan digantikan oleh Kevin Warsh, yang diprediksi akan menghadapi tekanan untuk menaikkan suku bunga guna meredam inflasi akibat konflik Iran.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang melonjak hingga mendekati 40%. Sektor energi menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan 2,3% di S&P 500, sementara saham teknologi seperti NVIDIA dan AMD anjlok masing-masing 4,4% dan 5,7%.