Pasar saham Wall Street mengalami penurunan dari posisi rekor tertingginya setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Kenaikan harga minyak mentah turut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi.
Kondisi tersebut mendorong para pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung, seperti dikutip dari Investasi. Pada penutupan perdagangan Rabu (4/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average merosot 620,72 poin atau 1,21% ke level 50.687,07.
Pelemahan juga terjadi pada indeks S&P 500 yang terpangkas 56,06 poin atau 0,74% menuju posisi 7.553,72. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mengalami penurunan sebesar 239,92 poin atau 0,89% menjadi 26.853,98.
Sektor teknologi dan keuangan menjadi penekan terbesar dari 11 sektor utama yang ada di indeks S&P 500. Sebaliknya, saham-saham di sektor energi justru menguat berkat sokongan dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Secara umum, ketiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat ditutup pada zona negatif. Saham berkapitalisasi kecil yang tergabung dalam Russell 2000 mencatatkan kinerja yang lebih buruk daripada saham berkapitalisasi besar.
Di sisi lain, saham sektor cip masih mampu menguat sebesar 1,4%, mengindikasikan bahwa minat terhadap teknologi kecerdasan buatan masih cukup tinggi. Kendati demikian, enam dari tujuh saham raksasa berbasis AI berakhir di zona merah.
Hanya Meta Platforms yang berhasil mencatatkan penguatan dengan kenaikan mencapai 4,2%.
"Saham-saham AI diperdagangkan di dunia mereka sendiri yang sepenuhnya terpisah, sebagian besar mengabaikan risiko makro dan geopolitik, setidaknya dalam batas wajar," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky.
"Oleh karena itu, akan ada permintaan untuk saham-saham tersebut, terutama pada hari-hari di mana saham-saham lain terlihat sedikit kurang menarik."
Penurunan tajam melanda indeks S&P Software & Services sebesar 4,0%. Sektor ini tertekan dalam beberapa bulan terakhir karena kekhawatiran pasar akan adanya gangguan dari perkembangan AI.
Eskalasi konflik di Timur Tengah dipicu oleh kembalinya serangan udara antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini menjadi ujian baru bagi kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dinilai rapuh.
Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran bahwa tekanan biaya energi bisa meluas menjadi inflasi sistemik yang lebih masif.
"Pasar ini terus menunjukkan tarik-menarik antara fundamental ekonomi AS, yang sangat positif, dan kekhawatiran bahwa lamanya konflik di Timur Tengah akan menyebabkan risiko penurunan," kata Bill Northey, direktur investasi senior di U.S. Bank Wealth Management, Billings, Montana.
"Kerangka kerja kami berpusat pada lamanya penutupan Selat Hormuz sebagai masukan utama untuk ekspektasi inflasi."
"Semakin lama durasi penutupan itu, semakin kecil kemungkinan Federal Reserve dapat melonggarkan kebijakan moneter pada tahun 2026," tambah Northey.
Berdasarkan data dari alat FedWatch CME, pelaku pasar keuangan kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 41,1% pada akhir pertemuan Federal Reserve bulan Desember, melonjak dari 9,1% pada bulan lalu.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Federal Reserve New York John Williams menegaskan kembali pandangannya bahwa bank sentral belum perlu mengubah tingkat suku bunga acuan. Menurutnya, kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat.
Data ekonomi terbaru memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja yang stabil dan sektor jasa yang masih ekspansif. Namun, harga input tetap tinggi disertai rencana belanja korporasi yang melemah akibat biaya energi dan ketidakpastian geopolitik.
Laporan Beige Book dari survei ekonomi regional Federal Reserve menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Lapangan kerja tercatat sedikit berubah, tetapi dampak kenaikan harga energi akibat konflik bersenjata sangat dirasakan.
Di kelompok produsen cip, saham Marvell, Intel, Qualcomm, dan Sandisk membukukan kenaikan berkisar antara 3,7% hingga 6,7%. Sebaliknya, saham Broadcom jatuh 4,5% dalam perdagangan pasca-jam kerja reguler setelah merilis laporan keuangan.
Saham perusahaan manajemen aset juga terkoreksi setelah Partners Group asal Swiss membatasi penarikan dari dana ekuitas swasta senilai US$ 8,6 miliar. Dampaknya, saham KKR, Blackstone, Blue Owl, dan Ares Management merosot antara 3,9% sampai 4,2%.
Sementara itu, saham GameStop melonjak sebesar 6,0% setelah emiten saham meme tersebut mencatatkan kenaikan pendapatan triwulanan dan mengumumkan program pembelian kembali saham senilai US$ 2 miliar.
Dari sektor kedirgantaraan, SpaceX milik Elon Musk dikabarkan berencana menetapkan harga penawaran umum perdana atau IPO sebesar US$ 135 per saham untuk menghimpun dana dengan target nilai valuasi mencapai US$ 75 miliar.