Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada Selasa (2/6/2026) karena selera risiko investor yang didorong oleh antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) berhasil mengimbangi ketegangan geopolitik terkait pembicaraan Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kenaikan bursa saham AS ini dilansir dari Investasi, di mana indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 228,91 poin atau 0,45 persen menuju level 51.307,79, S&P 500 bertambah 9,94 poin atau 0,13 persen ke posisi 7.609,90, dan Nasdaq Composite naik tipis 7,09 poin atau 0,03 persen ke level 27.093,90.
Sektor utilitas mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara 11 sektor utama S&P 500, sementara sektor layanan komunikasi mengalami penurunan paling dalam dengan total volume perdagangan di bursa AS mencapai 20,51 miliar saham.
Lonjakan performa dipimpin oleh saham Marvell Technology sebesar 32,5 persen dan Hewlett Packard Enterprise sebesar 19,5 persen, sementara Alphabet turun 3,9 persen setelah mengumumkan rencana penggalangan dana ekuitas senilai US$ 80 miliar untuk infrastruktur AI.
Pergerakan di sektor teknologi ini memicu optimisme investor yang lebih luas di pasar saham, meskipun situasi makroekonomi sedang menghadapi tekanan akibat dinamika global.
"Pasar tampak agak tenang di permukaan, tetapi banyak hal terjadi di balik layar, dan itu menggambarkan sebagian besar tahun ini," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, Carolina Utara.
Dickson menilai kondisi ini memperlihatkan adanya variasi pergerakan yang signifikan dalam industri pendukung kecerdasan buatan saat ini.
"Ada beberapa dispersi besar dalam keseluruhan ekosistem infrastruktur AI," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, Carolina Utara.
Peluang kelanjutan penguatan indeks masih terbuka lebar seiring dengan besarnya arus modal dan minat yang tinggi pada sektor teknologi tersebut.
"Pasar bisa saja mengalami reli yang panas dan cepat di mana momentum terus menang," tambah Dickson.
Ia juga memproyeksikan bahwa tren positif ini berpotensi membawa bursa saham bergerak ke posisi yang jauh lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
"Saya sama sekali tidak akan terkejut jika pada akhir musim panas ini pasar berada jauh lebih tinggi," kata Mike Dickson, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments di Charlotte, Carolina Utara.
Kondisi pasar modal ini berjalan beriringan dengan situasi geopolitik Timur Tengah saat Iran sedang mempelajari proposal damai dari AS namun belum membuka kontak, di tengah tindakan Israel yang terus menyerang Lebanon sehingga memicu lonjakan harga minyak mentah.
Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran inflasi baru yang mendorong pejabat Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga bank sentral mungkin diperlukan pada akhir tahun jika tekanan harga terus meningkat.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan lonjakan lowongan kerja yang tidak terduga pada sektor jasa profesional, meskipun aktivitas perekrutan dan pengunduran diri menurun di tengah ketidakpastian konflik, sementara pasar kini menantikan rilis laporan ketenagakerjaan bulan Mei pada hari Jumat.