Bursa Saham Wall Street Cetak Rekor Usai Isu Damai AS-Iran

Bursa Saham Wall Street Cetak Rekor Usai Isu Damai AS-Iran

Indeks utama bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street mencetak rekor tertinggi baru pada penutupan perdagangan Rabu (7/5/2026) waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh laporan potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai akan meredakan ketegangan geopolitik global.

Dilansir dari Suara, indeks S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 1,46 persen hingga menyentuh level 7.365,12. Sementara itu, Nasdaq Composite melesat 2,02 persen ke posisi 25.838,94, dan Dow Jones Industrial Average naik 1,24 persen atau setara 612,34 poin menjadi 49.910,59.

Optimisme pasar meningkat setelah muncul laporan dari Axios yang menyebutkan bahwa kedua negara hampir menyepakati moratorium pengayaan nuklir Iran. Langkah ini diharapkan mampu mengakhiri konflik yang selama ini menghambat stabilitas ekonomi internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan konfirmasi mengenai adanya kemajuan dalam proses negosiasi tersebut melalui platform media sosialnya. Namun, ia menegaskan bahwa status kesepakatan tersebut masih dalam tahap penjajakan yang belum bersifat final.

"Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.

Donald Trump juga mengungkapkan bahwa kebijakan penundaan "Proyek Kebebasan" dilakukan seiring dengan tanda-tanda positif dari pihak perwakilan Iran di meja perundingan. Penundaan ini mencakup rencana pengawalan kapal-kapal yang keluar dari wilayah Selat Hormuz.

Di sisi lain, pasar komoditas merespons kabar ini dengan penurunan harga minyak mentah secara signifikan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,03 persen ke level 95,08 dolar AS per barel, sedangkan Brent turun 7,83 persen menjadi 101,27 dolar AS per barel.

Direktur Investasi US Bank Asset Management Group Bill Northey berpendapat bahwa penghentian permusuhan akan memberikan dampak besar bagi pemulihan ekonomi di kawasan Asia Tenggara dan Eropa. Terbukanya akses perdagangan di Selat Hormuz dianggap sebagai faktor krusial bagi pasar global.

"Jika kita benar-benar mencapai titik di mana permusuhan mulai melambat atau bahkan berhenti sepenuhnya, dan kita melihat pembukaan kembali Selat Hormuz, ini akan memungkinkan beberapa wilayah yang paling sensitif secara ekonomi dan paling terdampak seperti Asia Tenggara dan Eropa menghindari tekanan ekonomi mereka," ujar Bill Northey, Direktur Investasi US Bank Asset Management Group.

Sektor teknologi turut memberikan kontribusi besar pada penguatan bursa saham, terutama didorong oleh performa emiten produsen chip. Saham Advanced Micro Devices (AMD) dilaporkan melonjak hingga 18,6 persen setelah merilis laporan keuangan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi analis.

Artikel terkait

Rekomendasi