Wakil Menteri Keuangan Juda Agung membeberkan tiga faktor utama pemicu krisis ekonomi global yang meliputi sektor fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan dalam sebuah konferensi virtual pada Senin (25/5/2026).
Pemerintah Indonesia memastikan kondisi makro nasional saat ini terpantau sehat serta stabil, dilansir dari Suara. Data menunjukkan indikator domestik tidak memperlihatkan tanda-tanda krisis karena investor masih memercayai instrumen utang negara.
Faktor pertama yang diwaspadai adalah defisit fiskal seperti yang pernah melanda Amerika Latin pada tahun 1980-an hingga memicu ketidakpercayaan investor terhadap obligasi pemerintah setempat. Saat ini, defisit APBN Indonesia masih aman di bawah 3 persen dengan imbal hasil surat utang di kisaran 6,5 sampai 6,7 persen.
"Kalau kita lihat history-nya, pengalaman-pengalaman negara-negara di dunia ini yang mengalami krisis, sebenarnya ada tiga sumber krisis itu," kata Wamenkeu Juda Agung.
Juda Agung menambahkan bahwa peningkatan imbal hasil surat utang yang terjadi saat ini tidak terlalu signifikan sehingga pasar domestik dinilai masih sangat dipercaya oleh investor asing maupun lokal.
"Ya ada peningkatan tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi fiskal, krisis yang bersumber dari fiskal, tidak ada tanda-tandanya," beber Juda Agung.
Pemicu krisis kedua menyasar sektor neraca pembayaran yang sempat dialami Indonesia pada periode 1997-1998 silam. Kala itu, banyak korporasi menarik dana luar negeri secara masif sehingga memicu pelemahan nilai tukar Rupiah.
"Dulu instrumennya banyak sekali, and bahkan waktu itu kita tidak tahu berapa jumlahnya gitu ya," lanjut Juda Agung.
Kondisi masa lalu tersebut diperparah oleh berhentinya aliran modal asing atau sudden stop yang menyebabkan kelumpuhan pada perusahaan-perusahaan domestik akibat gagal bayar utang luar negeri.
"Dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok, dan saat ini kalau kita lihat pembayaran, angka-angka neraca pembayaran kita, relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu," ungkap Juda Agung.
Ancaman krisis ketiga dapat bersumber dari sistem keuangan akibat penyaluran pinjaman dana yang terlalu masif di berbagai sektor hingga membentuk gelembung ekonomi atau bubble.
"Ketika bubble itu burst, pecah, maka terjadi kolaps di sistem perbankan, atau terjadi krisis di sistem keuangan. Seperti 2008 di Amerika Serikat dan sebagainya, terjadi bubble," kata Juda Agung.
Hingga saat ini, stabilitas makro ekonomi Indonesia dilaporkan masih terjaga dengan baik dari ketiga risiko tersebut berdasarkan pemantauan data terbaru.
"Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini," pungkas Juda Agung.