Warga Bintaro Desak Pengerukan Saluran Air Atasi Banjir Berulang

Warga Bintaro Desak Pengerukan Saluran Air Atasi Banjir Berulang

Warga di kawasan Bintaro Permai IV, Jakarta Selatan, mengeluhkan kondisi banjir yang terus berulang setiap hujan deras akibat saluran air yang mengalami pendangkalan dan penyumbatan sampah. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Sabtu (9/5/2026), luapan air tersebut sering merendam pemukiman karena posisi daratan yang lebih rendah.

Kondisi drainase yang sempit menyebabkan air masuk ke dalam rumah-rumah penduduk dan merusak berbagai perabotan rumah tangga. Salah satu warga, Romlah, menyatakan bahwa warga hanya bisa menunggu banjir surut tanpa bisa melakukan banyak aktivitas saat genangan air muncul.

"Kalau kasur kan kita tahu sendiri ya, ngeringinnya bisa sebulan baru kering kayak gitu. Capek, asli capek," ucap Romlah, warga Bintaro.

Kerugian materiil dialami warga karena banyak pakaian dan furnitur yang harus dibuang akibat terkena air kotor. Romlah mengaku kini enggan membeli perabotan baru demi menghindari kerugian lebih lanjut di masa mendatang.

"Kalau mau laundry (bajunya) kebanyakan, kan uang lagi," kata Romlah.

Trauma akibat banjir juga membuat warga sulit beristirahat dengan tenang saat hujan turun di malam hari. Kondisi ekonomi menjadi alasan utama bagi warga untuk tetap bertahan di lokasi yang kini sudah tidak lagi memiliki daerah resapan air tersebut.

"Pernah saya lagi posisi tidur, tahu-tahu air sudah di ini ya (kasur), jadi bener-bener saya ‘Duh kok dingin-dingin’ gitu. Sering kayak gitu, makanya ya mau pindah, tapi kalau sekarang kan rumah mahal ya," ujar Romlah.

Penyempitan lahan serapan air di kawasan tersebut terjadi seiring masifnya pembangunan rumah dan sekolah di area yang dulunya merupakan rawa. Romlah menilai letak geografis rumahnya yang berada di dataran rendah memang menjadi faktor utama air mengalir ke pemukimannya.

"Kalau (ngeluh) pemerintah sih enggak ya, karena emang kan ini hubungannya ke masalah lokasi ya. Yang namanya air kan larinya ke bawah gitu, nah kami posisinya di bawah," kata Romlah.

Warga berharap ada tindakan nyata berupa pengerukan rutin terhadap saluran air di sekitar rel kereta api untuk mempercepat aliran air ke hilir. Kehadiran petugas PPSU sangat diharapkan segera setelah banjir surut untuk mengangkut endapan lumpur serta sampah yang menyumbat.

"Idealnya sih sehabis banjir harusnya ada dari PPSU tuh langsung tindakan gitu lho, ngambilin sampah. Karena kemarin juga saya lihat di pinggir jalan yang dekat SMAN 86 itu ada kasur-kasur ditaruh di pinggir jalan," tutur Romlah.

Pengerukan minimal seminggu sekali dianggap efektif untuk mencegah antrean air yang terlalu lama di pemukiman. Selain pengerukan, warga mengusulkan pemasangan pagar penyaring sampah di saluran air dekat SD Negeri 03 Bintaro Pagi.

"Saya kepenginnya got-got itu dirutinin (dikeruk) minimal ya seminggu sekali gitu. Karena itu ngaruh banget, ngaruh banget. Jadi walaupun banjir tapi cepat gitu lho antre airnya," tutur Romlah.

Usulan pengadaan besi penyaring sampah tersebut sudah diajukan, namun hingga kini belum mendapatkan realisasi dari pihak terkait. Warga berencana mengadakan kerja bakti mandiri untuk membersihkan area perairan guna mengurangi risiko sumbatan.

"Saya sudah mau minta yang besi-besi buat penanganan jadi air sama sampah bisa terpisah gitu kan. Tapi belum terealisasi. Mudah-mudahan (segera), besok juga mau ada kerja bakti katanya," ujar Romlah.

Faktor kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah juga ditekankan sebagai kunci penanganan banjir yang berkelanjutan. Romlah mengingatkan bahwa daya tampung TPST Bantargebang sudah semakin menipis sehingga pencegahan sampah di tingkat lokal sangat krusial.

"Karena imbasnya banjir itu lama atau gimana ya dari sampah," kata Romlah.

Menanggapi keluhan tersebut, pihak kecamatan mengakui perlunya infrastruktur baru untuk menampung debit air yang berlebih. Camat Pesanggrahan, Angga Saputra, menyebutkan pembangunan embung menjadi salah satu solusi antisipasi jangka panjang.

"Iya kalau itu (pengerukan) mah perlulah untuk antisipasi. Terus ada itu embung ya, bikin embung lagi," kata Angga Saputra, Camat Pesanggrahan.

Artikel terkait

Rekomendasi