Warga Cipondoh Keluhkan Peningkatan Frekuensi Banjir di Kampung Candulan

Warga Cipondoh Keluhkan Peningkatan Frekuensi Banjir di Kampung Candulan

Intensitas banjir di Kampung Candulan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, dilaporkan mengalami peningkatan signifikan dari siklus lima tahunan menjadi hampir setiap bulan. Fenomena ini memicu keluhan warga setempat akibat genangan air yang semakin sering merendam pemukiman saat hujan deras terjadi.

Perubahan pola bencana ini mulai dirasakan masyarakat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Tidak hanya frekuensi yang bertambah, namun volume air yang masuk ke dalam hunian warga juga tercatat semakin tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Rena, seorang warga berusia 39 tahun, memberikan kesaksian mengenai kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang kini rentan terdampak luapan air. Ia menyebutkan bahwa perubahan tersebut sangat kontras dengan situasi di masa lalu.

"Kalau dulu kan tiap lima tahun sekali, sekarang hampir sebulan beberapa kali. Waktu Lebaran saja sudah tiga kali banjir," ujar Rena.

Peningkatan ketinggian air juga menjadi sorotan karena kini genangan berwarna coklat tersebut tidak lagi tertahan di luar area hunian. Rena menjelaskan bahwa dampak banjir saat ini jauh lebih merugikan bagi para penghuni rumah.

"Dulu masih standar, enggak sampai masuk rumah. Tapi sekarang makin ke sini makin tinggi airnya," kata dia.

Harapan untuk perbaikan infrastruktur disuarakan oleh Rena guna memutus rantai bencana yang terus berulang di wilayahnya. Ia menyoroti pentingnya penataan aliran air yang lebih efektif oleh pihak terkait.

"Pengennya diperbaiki lagi, sistem drainasenya supaya enggak banjir terus," ucap Rena.

Oman, warga berusia 42 tahun yang menetap di kawasan tersebut sejak kecil, mengonfirmasi adanya peningkatan drastis pada level ketinggian air. Menurutnya, banjir yang terjadi dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

"Sekarang mah banjirnya sudah sedada," kata dia.

Berdasarkan laporan warga, bencana terbaru melanda pada Senin (4/5/2026) dengan air yang mulai naik sejak tengah malam. Oman menceritakan kronologi saat air mulai memasuki kawasan pemukiman ketika warga sedang beristirahat.

"Mulai banjir jam 12 malam (00.00 WIB). Kita lagi tidur, terus bangun karena air sudah naik," ujar Oman.

Terkait banjir pada awal Mei tersebut, Rena menambahkan bahwa proses kenaikan debit air berlangsung sangat cepat. Kondisi ini memaksa sejumlah anak sekolah di wilayah terdampak untuk meliburkan diri karena akses mobilitas yang tertutup total.

"Sore sudah ada, tapi masih kecil. Jam satu malam sudah masuk ke rumah, naiknya cepat sekali," kata Rena.

Warga yang terdampak kesulitan menjalankan aktivitas harian karena lumpuhnya akses jalan utama. Dampak pendidikan bagi generasi muda di lokasi tersebut juga mulai terlihat akibat intensitas banjir yang tidak menentu.

"Akhirnya pada libur, sudah izin ke guru," imbuh dia.

Artikel terkait

Rekomendasi