Warga Jakarta Barat Desak Polisi Berpatroli Atasi Begal Jalanan

Warga Jakarta Barat Desak Polisi Berpatroli Atasi Begal Jalanan

Keresahan melanda masyarakat yang beraktivitas di wilayah Jakarta Barat akibat maraknya aksi kejahatan jalanan bersenjata tajam dan pembegalan motor, dilansir dari Megapolitan pada Rabu (20/5/2026).

Kondisi rawan ini memicu kecemasan mendalam bagi warga dan pihak keluarga, terutama saat harus pulang beraktivitas pada malam hari melalui rute sepi.

Kekhawatiran terhadap situasi keamanan ini diungkapkan oleh Putra, seorang warga berusia 33 tahun yang sering melintasi kawasan tersebut hingga larut malam.

"Kalau yang lebih khawatir itu istri saya ya. Jadi istri saya tuh suka nge-WhatsApp gitu kalau pulang jangan malam-malam, rawan begal, gitu," ujar Putra.

Untuk mengantisipasi bahaya, ia selalu memilih rute perjalanan yang ramai meskipun sepeda motornya bukan termasuk keluaran terbaru.

"Kalau saya sih enggak terlalu was-was ya, karena jalan yang saya lalui itu kan jalannya yang ramai. Saya juga tahu kalau jalan sepi itu yang mana. Lebih ke keluarga aja sih, lebih minta kita jangan pulang malam, jangan keluyuran malam-malam, biar lebih aman di rumah," ucap Putra.

Ia menambahkan bahwa gangguan keamanan tidak hanya terjadi di malam hari, melainkan juga pada siang hari di jalanan umum.

"Tapi emang meresahkan sih, sekarang jangankan begal di jalanan, siang-siang aja banyak debt collector pada narikin paksa motor, yang enggak nunggak aja pada ditarikin," keluh Putra.

Tindakan tegas di lapangan dan optimalisasi fungsi kamera pengawas (CCTV) sangat diharapkan warga untuk menekan ruang gerak pelaku kriminal.

"Misalnya ada suaranya juga tuh CCTV-nya, jadi kalau kepantau ada yang mencurigakan, ditegur lewat CCTV biar dia pergi enggak di situ lagi," kata Putra.

Langkah melumpuhkan pelaku kejahatan dengan penembakan di bagian kaki juga mendapat dukungan dari warga demi keselamatan korban.

"Terus kalau bisa polisi patroli bawa senjata lengkap aja enggak apa-apa, mending ditembak aja itu begalnya. Tapi bukan ditembak mati ya, di kakinya aja minimal biar dia enggak kabur, karena kan dia udah membahayakan kita, daripada kita dibacok kan sama dia," ucap Faisal.

Dampak psikologis dan rasa takut yang berlapis juga dirasakan secara nyata oleh kelompok perempuan yang bermobilitas di kawasan tersebut.

Seorang perantau bernama Yasa menyatakan ketakutannya yang mendalam setelah melihat berbagai pemberitaan mengenai kasus pembegalan akhir-akhir ini.

"Kalau aku sih sebagai perempuan ya jelas merasa takutlah, resah, khawatir bangetlah. Karena kan namanya aku perempuan ya, kadang pergi atau pulang kerja malam, takut banget begal setelah ngeliat berita-berita sekarang," tutur Yasa.

Menurutnya, penggunaan jasa transportasi daring saat ini belum menjadi jaminan mutlak bagi keselamatan penumpang perempuan.

"Ini kalaupun misal dapet ojol aman, di jalannya pun belum aman gitu karena banyak begal segala macam gitu-gitu. Jadi ya jelas takut bangetlah," ujar Yasa.

Bentuk ancaman lain yang kerap dihadapi kaum perempuan di pinggir jalan adalah maraknya tindakan pelecehan verbal.

"Kalau malam kan serem ya, itu creepy dan jujur meresahkan sih. Kita enggak tahu sejauh apa mereka bertindak gitu, bisa aja malah jadi kejahatan jalanan lagi kalau mereka lihat ada kesempatan apalagi malam hari," ujarnya Yasa.

Pemerintah diharapkan segera memetakan zona merah kejahatan jalanan agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan.

"Sama ya patroli sih ya, karena kalau misalnya enggak ada yang patroli, kalau misalnya kita nelpon polisi waktu kita merasa terancam juga kan pasti jauh, akan butuh waktu lama gitu. Kalau misalnya ada banyak petugas-petugas yang patroli di dekat lokasi, jadi mereka bisa cepat gitu langsung nyamperin kita," ucap Yasa.

Kondisi rawan ini juga dikeluhkan oleh Fajar, seorang pekerja SCBD yang tinggal di Cengkareng dan terpaksa memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

Kekhawatiran Fajar meningkat setelah terjadi pembegalan sadis yang melukai punggung korban di Jalan Arjuna Utara pada Senin (4/5/2026).

"Sebenarnya mau kita muter ke tempat lain pun sama aja, sekarang di mana-mana bahaya. Enggak ada amannya, Jakbar tuh udah kayak Gotham City gitu lho kalau di Batman tuh, isinya banyak penjahat-penjahatnya, kekerasan semua," keluh Fajar.

Rentetan aksi kriminal di jalur pulang harian tersebut menimbulkan efek trauma yang membuatnya takut berkendara sendirian.

"Terus jadi panik kalau misalnya lihat ada orang di pinggir jalan gitu kan kayak kita lagi jalan sendirian malam-malam terus ada orang di pinggir jalan berhenti atau di atas motor Bawaannya udah was-was gitu lho," ucap Fajar.

Ia bahkan harus mencari rekan perjalanan agar bisa berkendara bersama secara beriringan demi menghindari pembegalan.

"Malah kemarin tuh pas yang habis banget kejadian begal itu, saya sampai minta temenin sama teman saya gitu yang emang pulang searah supaya kita pulangnya konvoi aja barengan gitu," tutur Fajar.

Kerawanan yang masif turut disuarakan Shaddam, warga Cengkareng yang menyoroti keberanian pelaku pencurian kendaraan bermotor bersenjata api.

"Apalagi kayak misalnya orang curanmor nih, sekarang rata-rata tuh orang kalau misalnya nyolong motor itu pasti bawa senpi gitu, bawa pistol. Dan ya mereka beranilah siang-siang mereka enggak malam-malam gitu, malah mereka siang-siang ramai-ramai gitu kan," ucap Saddam.

Banyaknya informasi kejahatan di media sosial memicu rasa paranoid bagi warga saat melihat sorot lampu kendaraan lain dari kaca spion.

"Iya kalau saya sih sebenarnya belakangan ini tuh jadi parnoan sih dampaknya ya. Nah itu tuh kalau misalnya di jalanan sepi terus tiba-tiba ada lampu motor lain gitu di spion tuh langsung panik aja gitu bawaannya," tutur Shaddam.

Kehadiran Tim Pemburu Begal yang dibentuk oleh Polda Metro Jaya kini diharapkan mampu menyisir dan memberantas jaringan kriminal di Jakarta Barat.

Artikel terkait

Rekomendasi