Sejumlah warga RW 12 Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, menyatakan keberatan atas rencana penutupan permanen seluruh pelintasan liar kereta api di wilayah mereka pada Kamis (14/5/2025). Kebijakan ini dinilai akan memutus akses mobilitas warga menuju kawasan Tebet Timur Dalam.
Dilansir dari Megapolitan, warga merasa penutupan jalur pintas tersebut akan memaksa mereka menempuh rute yang jauh lebih panjang melalui Kampung Melayu atau Cawang. Padahal, banyak fasilitas penting seperti pasar, sekolah, hingga pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terletak di sisi Tebet Timur.
Ngatijan, seorang warga RW 12 yang kini berusia 74 tahun, menegaskan bahwa akses tersebut sangat vital bagi keberlangsungan aktivitas masyarakat setempat setiap harinya.
"Ya, kalau bisa jangan ditutup karena kami merasa keberatan. Kalau mau ditutup semua, warga di sini tidak bisa keluar," ucap Ngatijan, warga RW 12.
Ia juga menyoroti peran jalur tersebut sebagai rute alternatif bagi pengendara lain, termasuk ojek daring yang sering melintas untuk mempersingkat waktu tempuh menuju Kebon Baru.
"Iya, ini jalur alternatif dari Tebet ke Kebon Baru. Ojek-ojek juga sering mengambil jalur di sini, kasihan kalau ditutup. Di sini juga ada penjaga sampai jam 23.00 WIB, baru setelah itu dikunci," sambung Ngatijan.
Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Syahroni, warga berusia 56 tahun yang tinggal tepat di depan area pelintasan liar tersebut. Ia mengkhawatirkan anak sekolah yang rutin melintas.
"Karena anak-anak sekolah bolak-balik lewat sini menggunakan motor. Kasihan kalau harus memutar terlalu jauh," tutur Syahroni.
Masyarakat memperkirakan bahwa jika akses ini ditutup total, waktu tempuh yang biasanya singkat bisa membengkak menjadi sekitar 20 menit akibat kepadatan lalu lintas di jalur utama. Di sisi lain, otoritas perkeretaapian memiliki pandangan berbeda mengenai urgensi penutupan ini.
Deputy II Daop 1 Hendrady menjelaskan bahwa langkah tegas ini diambil untuk menekan angka kecelakaan di perlintasan tidak resmi. Berdasarkan data, terdapat lima titik pelintasan liar aktif antara Stasiun Tebet hingga Stasiun Cawang.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kewilayahan, mulai dari kepolisian, camat. Kesepakatannya, ada lima tempat yang akan ditutup," kata Hendrady, Deputy II Daop I.
Meskipun terdapat lima titik sasaran, pihak KAI menyatakan akan melaksanakan program ini secara bertahap dengan satu lokasi prioritas pada tahun 2026 ini.
"Untuk tahun ini, program dari KAI hanya satu di titik ini (yang ditutup), meskipun total ada lima, kami belum tahu apakah nantinya akan dibantu oleh Pemerintah Daerah untuk menutup sisanya atau tidak," sambung Hendrady.