Warga RW 01 Kembangan Selatan, Jakarta Barat, menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kota Jakarta Barat dan pengembang proyek hotel di Jalan Raya Kembangan Selatan setelah terdampak banjir parah pada Selasa (5/5/2026). Masyarakat menduga aktivitas pembangunan tersebut memicu luapan air ke permukiman dan Jalan Outer Ring Road Kembangan.
Kondisi banjir di wilayah tersebut dilaporkan kian memburuk sejak awal tahun hingga menyebabkan gangguan pada akses listrik dan air bersih bagi penduduk sekitar. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, hilangnya lahan resapan seluas 15 hektar yang beralih fungsi menjadi area proyek diduga menjadi penyebab utama meluapnya air.
Ketua RT 01 RW 01 Kembangan Selatan, Abdul Rohman, menjelaskan bahwa meskipun wilayah tersebut secara historis memiliki titik banjir, namun intensitasnya kini menjadi lebih sering dan rutin dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dari dulu memang sebetulnya di sini sudah ada banjir. Cuma ibaratnya dulu itu banjir tahunan atau lima tahunan. Nah, tapi kalau ini belakangan mulai sering banjirnya, mulai rutin. Kayak kemarin saja kurang lebih banjirnya bisa sampai 1 meter," ungkap Abdul saat ditemui di lokasi, Kamis (14/5/2026).
Abdul juga menyoroti perbedaan durasi surutnya air di wilayahnya dibandingkan titik lain. Menurutnya, genangan di RT 01 dapat bertahan lebih dari satu hari meskipun kondisi cuaca sudah panas.
"Dulu area tempat proyek ini kayak sawah-sawah, tempat menampung air dan resapan air. Dengan adanya proyek dibangun, air yang tadinya mengalir dan meresap ke situ jadi berkurang, akhirnya meluber ke warga," ujar Abdul.
Meski mengeluhkan dampak pembangunan, pihak warga tetap memberikan apresiasi terhadap langkah pengembang yang telah menyediakan kolam retensi di dalam area proyek. Kolam tersebut memiliki luas sekitar 2 hektar dengan kedalaman mencapai 12 meter.
"Sekarang di dalamnya itu ada juga penampungan airnya sekitar 2 hektar dengan kedalaman 12 meter. Saya apresiasi juga mereka bijak masih memikirkan warga. Cuma ya walaupun begitu kan tetap saja terbatas ya, ketika penuh ya pasti meluber dan membanjiri warga juga karena tetap tidak sebesar dulu," jelas dia.
Warga kemudian merumuskan tiga poin tuntutan utama yang ditujukan kepada pengembang dan Pemkot Jakarta Barat. Salah satu tuntutan mendesak adalah percepatan pembuatan saluran air resmi agar masalah genangan dapat segera teratasi.
"Yang pertama agar proyek pembuatan saluran air dari Pemkot itu dipercepat supaya tidak banjir. Lalu akses masuk ke perkampungan kami jangan digunakan untuk proyek agar tidak mengganggu," kata Abdul.
Terkait insiden pemasangan spanduk penolakan yang sempat muncul di area proyek pada tengah malam, Abdul menyatakan tidak mengetahui secara pasti identitas oknum yang melakukan aksi tersebut. Ia mendapatkan laporan dari tim keamanan bahwa spanduk tersebut langsung dicopot tidak lama setelah dipasang.
"Tiba-tiba dapat laporan dari tim keamanan saya bahwa jam 00.00 WIB itu ada yang memasang spanduk, tapi terus tidak lama langsung dicopot juga. Jadi saya tidak tahu itu siapa yang memasang dan mencopot," ucap Abdul.
Abdul menegaskan kembali posisi warganya yang pada dasarnya tidak menentang pembangunan hotel tersebut. Fokus utama warga adalah pemenuhan hak agar lingkungan mereka tidak menjadi langganan banjir akibat proyek besar di wilayahnya.
"Kami enggak menolak, cuma yang jelas hanya ingin menyampaikan supaya wilayah kami ini enggak terus-terusan menjadi korban banjir begitu, karena warga kan pada resah juga," kata dia.
Menanggapi keresahan tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Barat telah memfasilitasi pertemuan mediasi antara perwakilan warga, instansi terkait, dan pihak pengembang. Camat Kembangan, Joko Suparno, mengonfirmasi pelaksanaan agenda tersebut.
"Betul (sempat ada yang protes), tapi kemarin sudah ada pertemuan. Mereka dari RT 01 RW 01 Kembangan Selatan menyampaikan beberapa tuntutan," ujar Joko.
Terdapat lima poin utama yang diajukan warga dalam pertemuan tersebut, mulai dari pembenahan saluran air di wilayah proyek, agenda kerja bakti rutin, hingga permintaan penyerapan tenaga kerja lokal saat hotel mulai beroperasi. Warga juga meminta antisipasi terhadap risiko keringnya air tanah saat musim kemarau.
Pasca mediasi, pihak RT menyatakan bahwa tuntutan warga telah diterima oleh para pemangku kepentingan dalam pertemuan yang dihadiri oleh Lurah dan pihak Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat tersebut.
"Alhamdulillah kemarin itu pertemuan jam 10 hadir semua dari Camat, Lurah, Sudin SDA, dan pihak pengembang juga ada. Alhamdulillah semuanya aman sih diterima lah," tutur Abdul.
Warga berharap komitmen yang telah disepakati dapat segera direalisasikan agar dampak negatif dari alih fungsi lahan dapat diminimalisir. Fokus utama saat ini tetap tertuju pada penyelesaian masalah teknis drainase di sekitar area pembangunan.
"Harapan warga itu tidak neko-neko, tidak minta macam-macam. Intinya cuma biar masalah banjir ini bisa terselesaikan, karena warga sudah lelah. Harapannya masalah banjir selesai dan warga bisa mendapatkan dampak positif dari adanya proyek ini gitu intinya," tutup Abdul.