Warga Koja Bangun Budidaya Ikan di Lahan Terbengkalai

Warga Koja Bangun Budidaya Ikan di Lahan Terbengkalai

Warga Gang Cemara Hijau, RW 01, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, sukses mengubah lahan terbengkalai menjadi area urban farming berupa budidaya ikan produktif pada Selasa (19/5/2026).

Pemanfaatan lahan seluas 200 meter persegi tersebut dilakukan melalui dana swadaya masyarakat sejak tahun 2026, seperti dilansir dari Megapolitan. Kolam permanen seukuran 4 x 6 meter sebanyak enam unit kini mampu menghasilkan panen ikan hingga 50 kilogram setiap tiga bulan.

Penggagas Kolam Ikan Gang Cemara Hijau, Dani Arwanto menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas tersebut berawal dari patungan para remaja setempat secara sukarela.

"Anak-anak remaja di sini patungan, ada yang memberi Rp 50.000, ada yang Rp 10.000," ujar Dani Arwanto, Penggagas Kolam Ikan Gang Cemara Hijau.

Sebelum beralih fungsi menjadi area budidaya, lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang sering disalahgunakan untuk kegiatan negatif.

"Dulu tempat ini sering digunakan untuk hal-hal negatif seperti tempat minum miras atau narkoba," sambung Dani Arwanto, Penggagas Kolam Ikan Gang Cemara Hijau.

Warga sempat mengubah lahan menjadi lapangan bulu tangkis, namun peninggian jalan membuat area tersebut tergenang banjir setinggi pinggang orang dewasa.

"Imbasnya, lahan ini sering tergenang banjir hingga setinggi pinggang orang dewasa," ujar Dani Arwanto, Penggagas Kolam Ikan Gang Cemara Hijau.

Karena keterbatasan biaya untuk pengurukan, warga akhirnya memilih media kolam terpal untuk memelihara lele, nila, patin, hingga gurame sebelum beralih ke kolam semen. Hasil panen dipasarkan ke warga sekitar dengan harga Rp 24.000 per kilo untuk lele dan Rp 35.000 per kilo untuk nila, dengan omzet mencapai Rp 2 juta per panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP), Hasudungan Sidabalok, memberikan apresiasi terhadap inisiatif lokal yang dinilai efisien dalam memanfaatkan ruang perkotaan ini.

"Hal ini dinilai sebagai langkah positif yang mendukung terwujudnya ketahanan pangan daerah serta peningkatan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan ruang yang efisien," kata Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP).

Hasudungan mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan sirkulasi air dan wadah secara berkala guna mencegah munculnya sarang nyamuk di pemukiman penduduk.

"Pastikan sirkulasi atau aerasi air berjalan baik. Kemudian, hindari genangan air di sekitar area budidaya," sambung Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP).

Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas KPKP turut memfasilitasi kegiatan ini dengan menyediakan program pemberian benih ikan konsumsi gratis dan pelatihan teknis bagi kelompok pembudidaya ikan.

"Selain itu, ada juga program bantuan sarana perikanan budidaya yang diperuntukkan bagi kelompok binaan Sudin KPKP," ungkap Hasudungan Sidabalok, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP).

Potensi ekonomi dari program ketahanan pangan perkotaan ini juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi yang melihat peluang integrasi dengan kebijakan pemerintah.

"Budidaya ikan ini bisa menjadi solusi ketahanan pangan warga masyarakat termasuk bisa jadi pendapatan baru masyarakat apalagi kalau dikoneksikan dengan program pemerintah dalam hal ini MBG," ucap Bayu Dwi Apri Nugroho, Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gajah Mada.

Bayu menambahkan bahwa kunci utama keberhasilan budidaya di kawasan padat penduduk terletak pada pengelolaan kualitas air, efisiensi lahan, penerapan teknologi aerasi, sistem bioflok, maupun metode akuaponik secara disiplin.

Artikel terkait

Rekomendasi