Sejumlah warga meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk tetap melakukan pengawasan langsung di pelintasan sebidang Ampera Bulak Kapal, Bekasi Timur, Rabu (13/5/2026), meskipun fasilitas palang pintu otomatis saat ini telah memasuki tahap uji coba guna meningkatkan aspek keselamatan pengguna jalan.
Permintaan tersebut muncul seiring dengan langkah pemerintah daerah dalam membenahi sistem keamanan pasca-kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada akhir April 2026. Dilansir dari Megapolitan, pengawasan manual dianggap masih krusial untuk memantau tingkat kedisiplinan pengendara.
Fahmi, salah satu warga setempat, menekankan agar otoritas terkait tidak hanya bergantung pada laporan formal dan tetap siaga memantau kondisi nyata di lokasi pelintasan setiap harinya.
"Walaupun sudah dipasang palang pintu, pemerintah jangan sampai lengah. Kalau bisa tetap pantau langsung kondisi di lapangan, jangan cuma tunggu laporan aja," ujar Fahmi.
Menurut pandangannya, evaluasi periodik sangat dibutuhkan mengingat area Ampera merupakan jalur padat kendaraan yang memiliki rekam jejak kecelakaan cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
"Jalan ini kan sering dilintasi pengendara, dan kalau lihat ke belakang juga sudah banyak kejadian kecelakaan," kata Fahmi.
Selain masalah teknis pengamanan rel, ia menyarankan agar personel gabungan yang berjaga dapat dialokasikan ke titik kemacetan lain jika sistem otomatis sudah berjalan stabil dan masyarakat mulai menunjukkan kepatuhan.
"Kalau memang sudah ada palang otomatis, sebenarnya perlu sosialisasi supaya warga juga tertib. Jadi enggak harus dijaga terus sama petugas," ujarnya.
Ia mengidentifikasi beberapa titik yang membutuhkan kehadiran petugas pengatur lalu lintas, mulai dari kawasan Bulak Kapal hingga area di sekitar Stasiun Bekasi Timur yang sering mengalami penumpukan kendaraan.
"Lebih baik diarahkan ke titik-titik rawan macet supaya tugasnya lebih tertata," kata Fahmi.
Terkait kondisi terkini di lapangan, ia mencatat adanya perubahan perilaku pengguna jalan yang menjadi lebih waspada saat sirine peringatan mulai berbunyi.
"Kayaknya sekarang sudah pada tertib, ya. Enggak ada yang nyerobot. Kalaupun ada, berarti mereka enggak belajar dari kejadian yang ada," ujar Fahmi.
Di sisi lain, respons positif juga datang dari pengguna jalan yang merasa faktor keamanan di pelintasan sebidang tersebut kini menjadi jauh lebih terjamin dibandingkan sebelumnya.
"Ya lumayan aman kalau ada palang pintu otomatisnya. Jadi lebih terarah juga kalau misalkan ada yang jagain," ujar Yudi, seorang pengendara motor.
Yudi menambahkan bahwa keterlibatan berbagai unsur keamanan, termasuk personel TNI dan Kamtibmas, memberikan rasa tenang tambahan bagi warga yang melintas di jalur tersebut.
"Apalagi di sini dibantu sama Babinsa dan Kamtibmas setempat. Jadi lebih aman lagi. Meskipun sekarang masih pakai yang manual. Setidaknya udah enggak pakai bambu lah atau segala macam," kata Yudi.
Sebagai warga yang rutin melintasi kawasan tersebut, ia berharap komitmen pengamanan tetap dijaga ketat sekalipun nantinya sistem otomatis sudah beroperasi secara penuh tanpa bantuan manual.
"Kalau tetap dibuka, semoga terus dijaga karena palangnya aja enggak cukup, harus ada yang atur lalu lintasnya," ujar Yudi.
Uji coba palang pintu otomatis di Ampera ini telah dimulai sejak Selasa (12/5/2026), namun pengoperasian secara resmi masih menunggu penyelesaian pembangunan pos jaga jalur perlintasan langsung (JPL) yang sedang dikerjakan.