Warga Padati Kawasan Blok M untuk Bernostalgia Kuliner

Warga Padati Kawasan Blok M untuk Bernostalgia Kuliner

Kawasan Blok M di Jakarta Selatan dipadati masyarakat yang ingin berkumpul dan berburu kuliner pada hari libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, Sabtu (16/5/2026). Fenomena ini menandai perubahan fungsi kawasan yang kini populer menjadi tempat berkumpul generasi muda dan ruang nostalgia warga lansia, seperti dilansir dari Megapolitan.

Area kuliner hingga kawasan Little Tokyo terpantau ramai oleh pengunjung sejak menjelang makan siang. Meskipun sempat diguyur hujan, para pejalan kaki tetap memadati trotoar serta lorong-lorong pusat makanan untuk berburu hidangan yang sedang viral.

Salah satu pengunjung, Aca, datang bersama rombongan temannya dari Kelapa Gading, Jakarta Utara. Warga berusia 66 tahun tersebut sengaja berkunjung untuk menikmati suasana baru Blok M yang kini dinilai jauh lebih modern dibandingkan era 1990-an.

"Ini rata-rata kita kepala enam semua. Ini sengaja mau healing. Jadi teman dari muda dari anak-anak masih kecil-kecil sampai sekarang," kata Aca saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu.

Rombongan lansia ini memanfaatkan momen berkumpul untuk mencoba berbagai kuliner yang sedang populer di media sosial. Aca menjelaskan bahwa mereka sempat mencicipi beberapa hidangan populer di sana.

"Tadi udah ayam celup sama es teler juga nyobain. Enak es telernya ternyata," tutur Aca.

Bagi Aca, Blok M merupakan wilayah yang sudah sangat akrab di ingatannya sejak puluhan tahun lalu. Ia mengenang tempat tersebut sebagai terminal bus konvensional yang menjadi pusat mobilisasi para pekerja.

"Dulu, zaman dulu sering, tapi zaman dulu sebelum dia seperti sekarang, tahun 1990-an lah. Masih ada Bis Maya Sari, PPD, belum ada Busway," ujar Aca.

Menurutnya, suasana tempat ini sekarang jauh lebih padat ketimbang masa lalu. Aca juga masih mengingat titik terminal lama serta keberadaan Aldiron Plaza sebelum akhirnya kini berubah menjadi gedung Blok M Square.

"Dulu Blok M itu sebelah sana kan tetap terminalnya. Terus ada Aldiron Plaza dulu," kata Aca.

Ia menggarisbawahi adanya pergeseran fungsi tujuan masyarakat yang datang ke wilayah tersebut. Kendati demikian, perkembangan kawasan ini dianggap memberikan dampak dan atmosfer yang positif bagi publik.

"Bagus juga sih tapi jangan berkelahi saja gitu. Ngumpul-ngumpul aja kayak gitu bagus," ujar Aca.

Terkait aksesibilitas, sarana transportasi publik seperti MRT dan Transjakarta dinilai telah mempermudah pergerakan masyarakat. Namun, Aca merasa konektivitas langsung dari wilayah tempat tinggalnya di Jakarta Utara masih membutuhkan waktu.

"Kalau dari rumah kita nih, dari Kelapa Gading, jadi masih ada dua, tiga kali transit. Jadi yang langsung ke Blok M belum ada," ujar Aca.

Pengunjung lainnya, Mashudi, juga sengaja datang demi melihat transformasi lokasi yang sering ia kunjungi sewaktu masih aktif bekerja di Jakarta. Pria berumur 64 tahun tersebut mengingat Blok M era 1990-an sebagai kawasan transit yang sederhana.

"Yang paling saya ingat itu terminalnya. Suaranya ramai, bus datang pergi terus. Pedagang makanan juga banyak di pinggir jalan. Tapi walaupun ramai, rasanya dulu lebih sederhana," kata Mashudi saat ditemui, Sabtu.

Mashudi menambahkan bahwa kondisi tempat ini telah berubah drastis dengan kehadiran banyak kafe serta tempat nongkrong baru. Ia memanfaatkan kunjungan bersama keluarganya tersebut untuk mencoba makanan dan minuman modern.

"Tadi sempat coba kopi sama jajanan yang lagi ramai itu. Sekarang pilihannya banyak sekali, jadi sekalian nostalgia juga nyobain yang baru-baru," tutur Mashudi.

Artikel terkait

Rekomendasi