Warga dan Petugas Jaga Pelintasan Ampera Bekasi Usai Uji Coba Palang

Warga dan Petugas Jaga Pelintasan Ampera Bekasi Usai Uji Coba Palang

Sejumlah relawan warga bersama personel Dinas Perhubungan Kota Bekasi dan Babinsa TNI tetap bersiaga di pelintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur, pada Rabu (13/5/2026). Penjagaan ini dilakukan untuk mengatur kepadatan arus lalu lintas meskipun fasilitas palang pintu otomatis dan sirine telah terpasang di lokasi tersebut.

Kondisi arus kendaraan di jalur tersebut terpantau masih padat sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Para relawan yang mengenakan seragam khusus terlihat mengarahkan para pengendara motor dan mobil agar tidak menumpuk di area rel saat kereta api melintas.

Ali, salah satu warga yang bertugas di lokasi, menjelaskan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk memastikan ketertiban arus lalu lintas karena penyempitan badan jalan. Menurutnya, pengaturan manual masih sangat dibutuhkan agar pengendara sepeda motor tidak berantakan di atas rel.

"Walaupun ada palang otomatis juga, kayaknya kami tetap bakal di sini. Karena ukuran jalannya jadi lebih sempit. Kalau enggak diatur manual, motor berantakan di relnya," ujar Ali.

Ali menegaskan bahwa kelompok relawan ini telah beroperasi sejak tahun 1990-an secara turun-temurun dan bukan merupakan bagian dari organisasi kemasyarakatan tertentu. Ia menjamin tidak ada unsur paksaan terhadap pengguna jalan terkait pemberian uang.

"Kami sekarang sudah dipakaikan seragam. Dan kami itu sukarelawan dari sebelum adanya kejadian (kecelakaan) ini. Bukan orang-orang begitu (ormas)," kata Ali.

Keberadaan warga tersebut dianggap masih membantu tugas pemerintah dalam mengamankan jalur perkeretaapian. Saat ini terdapat sekitar 20 orang yang berbagi jadwal jaga dalam beberapa sesi waktu yang berbeda.

"Kami sudah turun-temurun di sini. Kecuali memang pihak pemerintah sudah melarang untuk tidak boleh, ya mungkin kami ikuti aturan itu," ujar Ali.

Pembagian tugas dilakukan secara berpasangan dengan durasi waktu jaga yang fleksibel mulai dari satu hingga empat jam. Ali juga mengamati adanya peningkatan kedisiplinan pengendara setelah kecelakaan tragis yang terjadi pada akhir April lalu.

"Karena kami dibikin sepasang-sepasang, jatuhnya 20 orang. Ada yang satu jam, ada yang dua jam, ada yang empat jam. Tergantung," kata Ali.

Faktor kehadiran petugas di lapangan dinilai memberikan pengaruh psikologis bagi pengguna jalan untuk lebih patuh. Selain itu, penutupan jalur di depan rel juga diklaim efektif mengurangi volume kendaraan yang melintas.

"Sekarang ini karena mungkin dibantu petugas, jadi mereka agak takut. Lebih tertib lah dari sebelumnya," ujar Ali.

Mengenai operasional palang pintu, masyarakat merasa lebih terbantu dari sisi keamanan. Ali kembali menekankan bahwa segala bentuk imbalan dari pengendara diterima berdasarkan prinsip sukarela tanpa tekanan.

"Kalau saya rasakan sekarang lebih berkurang. Ditambah lagi jalur depan rel kan sudah ditutup. Kalau dulu masih ada yang ambil ke kanan langsung, jadi lebih ramai," katanya.

Relawan di lapangan berharap sistem yang baru dapat meningkatkan keselamatan seluruh pengguna jalan. Keamanan di area perlintasan sebidang ini menjadi prioritas utama setelah evaluasi kecelakaan sebelumnya.

"Yang mau ngasih kami terima, yang enggak kasih ya sudah. Intinya sama-sama ikhlas aja. Jadi untuk palang pintu ini mungkin masyarakat terbantu dengan keamanannya," tutur Ali.

Di sisi lain, pengguna jalan memberikan masukan agar Pemerintah Kota Bekasi tidak hanya mengandalkan sistem otomatis semata. Fahmi, seorang pengendara, meminta adanya pengawasan lapangan yang konsisten secara langsung.

"Walaupun sudah dipasang palang pintu, pemerintah jangan sampai lengah. Kalau bisa tetap pantau langsung kondisi di lapangan, jangan cuma tunggu laporan aja," ujar Fahmi.

Ia berpendapat bahwa pemantauan langsung diperlukan untuk mengukur efektivitas alat dan tingkat kepatuhan warga. Fahmi juga menyarankan adanya pengalihan petugas jika nantinya masyarakat sudah benar-benar disiplin.

"Kalau memang sudah ada palang otomatis, sebenarnya perlu sosialisasi supaya warga juga tertib. Jadi enggak harus dijaga terus sama petugas," ujar Fahmi.

Sebagai informasi, palang otomatis di pelintasan Ampera Bulak Kapal baru saja menjalani uji coba singkat pada Selasa (12/5/2026). Operasional secara penuh masih menunggu penyelesaian pembangunan pos jaga yang ditargetkan rampung dalam waktu maksimal satu bulan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi