PT Waskita Karya (Persero) Tbk berhasil memangkas total utang perusahaan hingga mencapai Rp67,1 triliun sepanjang tahun 2025 melalui restrukturisasi keuangan dan operasional yang konsisten. Capaian strategis dari emiten konstruksi berkode WSKT tersebut resmi diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Buku Tahun 2025 di Gedung Waskita Karya, Jakarta, pada Jumat (8/5/2026).
Penurunan kewajiban ini menunjukkan penyusutan sebesar 20,16 persen dari posisi utang pada tahun 2023 yang sebelumnya menembus angka Rp84 triliun. Dilansir dari Kompas, Market, dan IDN Times, emiten milik negara ini juga sukses membukukan pendapatan usaha senilai Rp8,82 triliun di sepanjang tahun lalu.
Laba bruto perseroan ikut terkerek naik 12 persen menjadi Rp1,58 triliun dari periode sebelumnya yang bernilai Rp1,41 triliun. Langkah penyehatan ini berdampak langsung pada menyusutnya beban keuangan perusahaan dari Rp4,34 triliun menjadi Rp4,00 triliun setelah tercapai kesepakatan bersama 21 bank pada tahun 2024.
Perbaikan performa operasional Waskita Karya ditunjukkan lewat perolehan Nilai Kontrak Baru (NKB) sebesar Rp12,52 triliun pada akhir 2025. Jumlah tersebut mencerminkan kenaikan signifikan dari pencapaian periode tahun lalu yang tercatat sebesar Rp9,5 triliun.
Manajemen juga mengumumkan penyelesaian 100 persen atas kewajiban pajak past due atau melampaui jatuh tempo per tahun 2024. Sementara itu, utang vendor past due berhasil dipangkas sebanyak 96,1 persen, dari semula Rp1,62 triliun kini hanya tersisa Rp63,4 miIiar.
Untuk instrumen obligasi dan sukuk penjaminan, dana sebesar Rp707 miliar dialokasikan hingga akhir Desember 2025 demi membayar kupon sesuai perjanjian perwaliamanatan. Di sisi lain, restrukturisasi obligasi non-penjaminan senilai Rp3,35 triliun telah mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) untuk tiga seri dari total empat seri obligasi.
Kelangsungan strategi bisnis perseroan dipastikan tetap berjalan setelah para pemegang saham sepakat mempertahankan susunan jajaran direksi dan komisaris saat ini. Posisi Direktur Utama tetap dijabat oleh Muhammad Hanugroho dan Sutrisno bertahan sebagai Komisaris Utama.
"Strategi penyehatan keuangan konsisten dilakukan melalui implementasi MRA (Master Restructuring Agreement). Sejak restrukturisasi tersebut efektif di tahun 2024 sampai dengan Desember 2025, Waskita Karya telah berhasil menurunkan nilai outstanding utang MRA semula Rp 26,2 triliun menjadi Rp 24,1 triliun," kata Ermy Puspa Yunita, Corporate Secretary Waskita Karya.
Pihak manajemen menyatakan komitmen penuh untuk menyelesaikan sisa utang vendor yang masih berjalan secepat mungkin. Penyehatan performa terus diupayakan sejak fase restrukturisasi dimulai tiga tahun lalu dengan fokus utama pada kesepakatan induk.
"Dengan keputusan ini, kami optimistis dapat memperkuat kinerja dan daya caing perusahaan. Kombinasi strategi digital dan konektivitas global diharapkan mampu mendongkrak kinerja bisnis dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional," ujar Ermy Puspa Yunita, Corporate Secretary Waskita Karya.
Satu seri obligasi non-penjaminan yang masih tersisa saat ini dilaporkan berada dalam proses persetujuan restrukturisasi oleh pihak manajemen.