Volume Kendaraan Keluar Jakarta Meningkat Saat Penerapan WFH ASN

Volume Kendaraan Keluar Jakarta Meningkat Saat Penerapan WFH ASN

Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home bagi aparatur sipil negara setiap Jumat yang berlaku sejak awal April 2026 belum secara signifikan mengurangi kepadatan lalu lintas di sejumlah jalan protokol Jakarta. Dilansir dari Megapolitan, arus kendaraan di koridor Jalan MH Thamrin arah keluar Jakarta justru tercatat meningkat hampir 6 persen pada Jumat pertama pelaksanaan kebijakan tersebut.

Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan volume kendaraan outbound di Jalan MH Thamrin pada 10 April 2026 mencapai 54.473 unit, naik dari rata-rata hari kerja normal sebanyak 51.407 kendaraan. Peningkatan ini didominasi oleh sepeda motor yang naik menjadi 31.823 unit serta kendaraan roda empat yang mencapai 20.620 unit.

Kepala Pusat Data dan Informasi Perhubungan Dishub DKI Jakarta, Listiyaning Handayani, memberikan keterangan mengenai anomali lonjakan arus keluar di tengah ekspektasi penurunan kemacetan pusat kota tersebut pada Senin (11/5/2026). Ia menyebut penurunan volume kendaraan secara umum memang terjadi di beberapa titik, namun belum mencapai angka signifikan.

"Arus kendaraan arah keluar Jakarta justru meningkat. Total kendaraan rata-rata hari kerja tercatat 51.407 kendaraan, sedangkan pada Jumat WFH naik menjadi 54.473 kendaraan atau naik 5,97 persen," kata Listiyaning Handayani, Kepala Pusat Data dan Informasi Perhubungan (PusdatinHub) Dishub DKI Jakarta.

Listiyaning menjelaskan bahwa pemantauan melalui sensor traffic counting memperlihatkan tren penurunan yang tidak merata di seluruh koridor utama Jakarta. Di Jalan Jenderal Sudirman-Karet misalnya, volume kendaraan masuk hanya turun tipis sebesar 0,09 persen, sementara arus keluar turun 5,34 persen.

"Secara umum, total volume kendaraan pada hari Jumat dengan penerapan WFH ASN menunjukkan tren penurunan dibandingkan hari kerja normal, meskipun besaran penurunannya masih belum signifikan," ujar Listiyaning.

Pihak berwenang masih melakukan evaluasi berkala karena pergerakan kendaraan di ibu kota turut dipengaruhi oleh mobilitas pekerja swasta dan warga dari wilayah penyangga Jakarta. Meskipun sebagian ASN bekerja dari rumah, durasi waktu kepadatan tertinggi di jalan raya terpantau tidak mengalami perubahan jadwal.

"Dari data sensor traffic counting, tidak terdapat pergeseran puncak kemacetan (peak hour) antara hari kerja (Senin sampai Kamis) dengan hari Jumat pelaksanaan WFH, yaitu pada jam 07,00 hingga 09.00 pagi," kata Listiyaning.

Mengenai langkah pengaturan di lapangan, Listiyaning menegaskan bahwa pemerintah tidak menerapkan kebijakan manajemen lalu lintas tambahan selama periode WFH tersebut berlangsung.

"Tidak," ujar Listiyaning singkat.

Kondisi di lapangan menunjukkan kepadatan tetap terjadi, seperti di Jalan Jenderal Sudirman pada Jumat (8/5/2026) malam yang terpantau padat merayap dengan kecepatan kendaraan hanya berkisar 15-20 kilometer per jam. Pengemudi ojek online, Dedi, mengaku merasakan waktu tempuh yang sedikit lebih singkat, meski pesanan dari area perkantoran pemerintah justru menurun.

"Kalau dulu itu dari Menteng ke arah Sudirman bisa 35 sampai 45 menit. Kadang cuma geser beberapa ratus meter aja bisa lama banget," kata Dedi.

Dedi menambahkan bahwa saat ini perjalanan dari Menteng menuju Sudirman hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 menit. Namun, perubahan ini diikuti dengan berkurangnya aktivitas penumpang di sekitar gedung pemerintahan.

"Sekarang lebih enak sih, paling 20–25 menit sudah sampai. Enggak sepadat dulu yang stop-and-go terus," ujar Dedi.

Dedi mencatat bahwa pelanggan dari kawasan Thamrin dan Monas menjadi lebih sepi pada hari Jumat. Hal senada disampaikan Roni, pengemudi ojol lainnya, yang melihat adanya pergeseran mobilitas warga ke arah akses keluar kota lebih awal.

"Order dari gedung-gedung kantor pemerintah di Thamrin atau sekitar Monas itu agak berkurang. Jadi yang dulu rame jam berangkat kantor, sekarang jadi lebih sepi," ucap Dedi.

Roni mengamati bahwa kemacetan di pusat kota memang berkurang, namun kepadatan justru berpindah ke jalur menuju gerbang tol.

"Yang agak aneh itu arah keluar kota. Jumat pagi sekarang sudah mulai rame ke tol. Jadi kayaknya orang-orang malah berangkat lebih cepat buat ke luar Jakarta," kata Roni.

Menanggapi fenomena ini, Southeast Asia Director ITDP Indonesia, Gonggomtua Sitanggang, berpendapat bahwa proporsi ASN yang hanya 17 persen dari total 9 juta pekerja di Jabodetabek membuat dampak WFH satu hari per minggu menjadi terbatas. Ia menyarankan penguatan transportasi publik sebagai solusi pendukung.

"Jika dilihat secara menyeluruh, jumlah ASN di Jabodetabek hanya 17 persen dari jumlah penduduk yang bekerja di Jabodetabek," ujar Gonggomtua Sitanggang.

Gonggomtua menekankan bahwa Jakarta memerlukan strategi terintegrasi yang mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum serta penerapan kebijakan pembatasan kendaraan.

"Jakarta tidak bisa mengharapkan perubahan perilaku masyarakat meninggalkan kendaraan bermotor pribadi tanpa adanya strategi pendukung lainnya," ujar Gonggomtua.

KAI Commuter mencatat volume pengguna Commuter Line turun 9 persen pada Jumat (8/5/2026), sementara LRT Jabodebek juga mengalami penurunan penumpang sebesar 17 persen selama April 2026. Penurunan ini mengindikasikan sebagian perjalanan berubah menjadi aktivitas nonkantor atau beralih menggunakan kendaraan pribadi.

"Sehingga terdapat perbedaan 42.080 pengguna LRT Jabodebek atau 17 persen," kata Radhitya Mardika, Manager of Public Relations LRT Jabodebek.

Artikel terkait

Rekomendasi