Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke level 7,16 persen pada Senin (8/6/2026) akibat kombinasi tekanan global dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal domestik.
Lonjakan dari posisi hari sebelumnya sebesar 6,84 persen tersebut didasarkan pada data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) sebagaimana dilansir dari Investasi.
Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun ke kisaran 4,5 persen hingga 4,6 persen menjadi pemicu eksternal utama yang mempersempit selisih imbal hasil dengan obligasi Indonesia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menganalisis dampak situasi global tersebut bagi pasar obligasi domestik.
"Situasi ini diperburuk oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak yang mendorong penguatan dolar AS," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Di dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati pelebaran target defisit APBN 2026 yang meningkatkan persepsi risiko investasi.
"Akibatnya investor meminta premi risiko yang lebih tinggi dan yield pun naik," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Kecepatan kenaikan yield SBN yang mencapai 70 hingga 90 basis poin dalam beberapa bulan pertama tahun ini menjadi indikator pengetatan kondisi finansial secara signifikan.
"Pergerakan secepat itu menunjukkan pengetatan kondisi finansial yang cukup signifikan dan layak diwaspadai," ujarnya Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Meskipun arus dana asing masih memengaruhi harga di pasar sekunder, basis investor domestik saat ini dinilai sudah cukup kuat untuk menyerap pasokan surat utang pemerintah.
"Dalam kondisi seperti itu, yield yang terlihat menarik dalam rupiah belum tentu menarik jika dihitung dalam dolar AS," jelas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Kenaikan yield ini berdampak langsung pada beban bunga utang dalam APBN yang semakin sensitif terhadap biaya pendanaan baru.
"Beban bunga utang dalam APBN sudah terus meningkat dan akan semakin sensitif terhadap kenaikan biaya pendanaan," ujarnya Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.
Untuk mengamati potensi normalisasi pasar obligasi, investor disarankan memantau sejumlah indikator utama mulai dari stabilitas rupiah hingga pergerakan credit default swap (CDS).
"Jika rupiah stabil, CDS menurun, tekanan global mereda, dan permintaan dalam lelang tetap kuat, maka peluang normalisasi yield akan semakin besar dan tekanan di pasar obligasi dapat dikatakan mulai mereda," tutup Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.