Pasar obligasi korporasi mulai dibayangi oleh tren kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang berpotensi membuat emiten lebih selektif menerbitkan surat utang baru pada sisa tahun 2026, seperti dilansir dari Investasi pada Kamis (21/5).
Kenaikan signifikan terjadi pada yield SBN tenor 10 tahun yang menyentuh level 6,89% per Kamis (21/5), setelah pada awal tahun 2026 masih berada di kisaran 6,0%.
Pergerakan yield obligasi korporasi dinilai Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, dapat mengikuti kenaikan yield SBN dalam waktu cepat, meski terdapat faktor likuiditas dan frekuensi transaksi yang menyebabkan efek tertunda.
“Kalau dari sisi kupon, penerbitan obligasi korporasi tidak sebanyak penerbitan SBN. SBN ada lelang setiap minggu, sedangkan obligasi korporasi penerbitannya lebih jarang, sehingga perubahan kuponnya seakan-akan lebih lambat,” ujar Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas.
Aktivitas perdagangan obligasi korporasi di pasar sekunder yang tidak seaktif SBN membuat perubahan yield baru benar-benar terlihat ketika terjadi transaksi atau penerbitan baru di pasar.
“Obligasi korporasi memang tidak se-liquid SBN sehingga terlihat tidak terlalu volatile. Tapi begitu ada transaksi atau penerbitan baru, biasanya langsung terjadi repricing maupun rerating,” jelas Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas.
Tekanan akibat keluarnya dana asing secara masif di pasar SBN juga belum terasa langsung pada obligasi korporasi karena kepemilikan asing yang relatif kecil serta mayoritas investor menerapkan strategi menahan obligasi hingga jatuh tempo.
Gejolak global tersebut akan ditransmisikan terlebih dahulu melalui kenaikan yield SBN sebelum diikuti oleh peningkatan risk premium atau yield spread obligasi korporasi.
Meskipun minat penerbitan obligasi diperkirakan tetap ada hingga akhir tahun, jumlahnya diproyeksikan lebih sedikit dari target awal, dan emiten akan menyesuaikan strategi untuk menekan biaya dana.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada 2026 berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp 175,77 triliun, setelah mencapai Rp 284,3 triliun sepanjang Januari - Desember 2025.
“Saya pikir (penerbitan tahun ini) mungkin dari jumlah tersebut agak sedikit turun ya. Penerbitan obligasi korporasi masih kompetitif, tapi yang dihindari perusahaan adalah biaya dana yang lebih tinggi. Kemungkinan size penerbitan akan dikurangi atau tenor dibuat lebih pendek,” imbuh Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas.
Dari sudut pandang investor, instrumen obligasi korporasi tetap menarik karena menawarkan yield dan kupon yang lebih kompetitif dibandingkan SBN di tengah tekanan yang melanda pasar saham saat ini.
“Untuk kondisi sekarang, investor kemungkinan lebih memilih tenor pendek dan obligasi korporasi dengan rating tinggi. Tapi beberapa korporasi yang punya bisnis kuat atau memiliki eksposur dolar AS juga bisa tetap menarik meskipun ratingnya lebih rendah,” tutup Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas.