Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan sebanyak 65,8 persen garis pantai di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa mengalami abrasi serius selama periode 2000 hingga 2024. Temuan ini dipaparkan dalam diskusi ketahanan pesisir di Jakarta pada Senin (4/5/2026).
Data tersebut dilansir dari Detik iNET melalui analisis citra satelit Sentinel yang menunjukkan dominasi erosi dibandingkan akresi yang hanya mencapai 34,2 persen. Kondisi ini dinilai tidak lazim bagi wilayah delta yang seharusnya menjadi area sedimentasi alami.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, menjelaskan bahwa tantangan di wilayah tersebut bersifat sistemik dan telah menjadi isu berskala nasional.
"Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, dan banjir, tetapi juga kenaikan muka air laut dan penurunan tanah. Ini bukan isu lokal, melainkan isu nasional," ujar Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.
Dampak kerusakan lingkungan ini terlihat nyata di Tanjung Pontang, Serang, yang kehilangan daratan seluas 1,72 kilometer persegi. Di wilayah Muara Gembong, Bekasi, air laut dilaporkan telah merangsek masuk sejauh 4 kilometer dan merendam ribuan hektare tambak warga.
Kerusakan serupa juga melanda Demak dengan intrusi air laut hingga 6 kilometer yang menenggelamkan permukiman. Berdasarkan data geospasial, Demak mencatat penurunan muka tanah tertinggi mencapai 16 sentimeter setiap tahunnya.
| Lokasi | Laju Penurunan (cm/tahun) |
|---|---|
| Demak | 16 |
| Jakarta | 15 |
| Sidoarjo | 14 |
| Pekalongan | 11 |
| Surabaya | 8 |
| Brebes | 7 |
| Serang | 6 |
| Cirebon | 6 |
| Indramayu | 6 |
Kenaikan permukaan laut di Pantura juga terpantau rata-rata 0,42 sentimeter per tahun berdasarkan data altimetri 1993-2025. Secara geologis, 84 persen pesisir Pantura terdiri dari endapan lunak yang sangat rentan terhadap pemampatan dan erosi laut.
Tubagus menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik, melainkan harus memperhatikan karakteristik unik setiap daerah.
"Tidak ada solusi tunggal untuk seluruh Pantura. Penanganan harus disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah," pungkas Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN.