Penulis buku Ahmad Bahar menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Ketua Umum DPP GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules terkait kiriman pesan dan video bernada ancaman. Pernyataan damai tersebut disepakati melalui musyawarah kekeluargaan di Polres Depok pada Senin (18/5/2026) dini hari, seperti dilansir dari Megapolitan.
Persoalan ini bermula ketika nomor WhatsApp milik Ahmad Bahar dan putrinya mengalami peretasan pada Kamis (14/5/2026). Akibat pembajakan gawai tersebut, pesan bermuatan ancaman terkirim kepada Hercules, istri, serta jajaran pengurus organisasi masyarakat GRIB Jaya.
"Sebagai manusia biasa, saya meminta maaf kepada pimpinan GRIB Jaya, yaitu Pak Haji Hercules, kemudian juga kepada istri beliau, dan kepada pengurus Grib, baik DPP, DKI, maupun yang lainnya," ujar Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Ahmad menegaskan bahwa langkah klarifikasi dan perdamaian ini ditempuh demi mencegah perselisihan lebih lanjut di masa mendatang.
"Intinya, moga-moga dengan saya menyampaikan permohonan maaf ini, kita menjadi saudara, tidak ada masalah, tidak berkonflik," tutur Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Sebagai pembuat konten TikTok, Ahmad mengaku kerap mengulas isu-isu yang sedang hangat di tengah masyarakat. Salah satu materi yang ia bahas adalah perbedaan pandangan antara politisi Amien Rais dan Hercules melalui akun pribadinya.
"Termasuk ada video lain yang bukan saya yang membuat, tapi HP saya dan HP anak saya di-hack, bahasa lainnya di-kloning," ungkap Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Ahmad menduga ada pihak luar yang sengaja memanipulasi videonya ketika proses peretasan ponsel berlangsung hingga memicu salah paham.
"Sehingga ada video-video tertentu yangitu bukan punya saya. Itu barangkali yang menjadi sumber utamanya yang memicu kesalahpahaman," tegas Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Saat ini konten asli di akun pribadinya telah dihapus, dan Ahmad mengingatkan adanya sanksi hukum dari GRIB Jaya bagi pihak yang menyebarkan video manipulasi tersebut.
"Jadi saya kira itu permohonan maaf yang tulus dari saya. Saya tidak pernah sebenarnya kepada siapa pun itu ada kebencian," kata Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Ia memastikan tidak menyimpan sentimen pribadi kepada pihak manapun dan murni mengunggah konten dalam kapasitasnya sebagai pengguna media sosial.
"Tapi sekali lagi, saya sebagai TikToker, sebagai yang bermain di media sosial, saya memohon maaf jika ada yang menduplikasi dan kemudian larinya ke mana-mana," tambah Ahmad Bahar, Penulis Buku.
Pihak GRIB Jaya yang diwakili oleh Divisi Hukum pada awalnya berniat membawa kasus pengiriman pesan ancaman ini ke jalur pidana. Namun, instruksi dari pimpinan tertinggi organisasi mengubah keputusan tersebut.
"Ketua Umum mengatakan bahwa jika lebih baik, alangkah eloknya sudah melakukan permintaan maaf saja, ketimbang kita harus berperkara," tutur Wilson Colling, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GRIB Jaya.
Penyelesaian masalah akhirnya dituangkan dalam kesepakatan tertulis resmi di hadapan petugas kepolisian guna meredam polemik digital.
"Sudah dibuatkan surat pernyataan di kantor polisi. Di sini kita hadir untuk mengakhiri segala polemik yang ada di ruang publik, dalam hal ini ada unsur-unsur penghinaan," jelas Wilson Colling, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GRIB Jaya.
Wilson menambahkan bahwa Ahmad Bahar bersikap kooperatif karena pesan provokatif tersebut terbukti dikirim oleh peretas, bukan oleh sang penulis atau anaknya.
"Because kita sudah saling memaafkan dan berita-berita yang tendensius itu untuk diakhiri. Karena antara kami sudah sepakat untuk berdamai secara kekeluargaan," tambahnya Wilson Colling, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GRIB Jaya.
Sebelum kesepakatan damai tercapai, belasan anggota organisasi GRIB Jaya sempat mendatangi kediaman pribadi Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok, pada Minggu (17/5/2026) siang untuk mencari keberadaannya.
Ahmad Bahar sedang tidak berada di lokasi karena tengah bepergian untuk menyerahkan buku kepada Zulkifli Hasan dan berencana menemui Ma'ruf Amin.
"Kemarin jam 14.00 WIB, di rumah cuma ada anak-anak saya, mereka nyari suami saya enggak ada," kata Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.
Karena Ahmad Bahar tidak ditemukan di rumah, rombongan sempat memeriksa area dalam hunian sebelum akhirnya membawa putri Ahmad berinisial F (33) ke markas GRIB Jaya di Jakarta Barat dengan pendampingan Ketua RW.
"Saya terputus kontak sama suami, dia tidak bisa dihubungi handphone-nya," ujar Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.
Istri Ahmad menjelaskan situasi sempat menegangkan karena keberadaan putrinya dijadikan jaminan agar suaminya segera datang menemui kelompok tersebut.
"Yang dicari Pak Ahmad, terus sampai anak saya dibawa itu untuk jadi sandera kalau Pak Ahmad belum nemuin mereka, gitu loh. Jadi disuruh datang dulu baru anak saya dipulangin, mana itu pas hari ulang tahun anak saya, sedih," jelas Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.
Yenni mensinyalir aksi penggerudukan dilatari oleh kombinasi teror pesan dari peretas gawai serta ulasan video suaminya yang membela posisi Amien Rais.
"Awal ininya sih ya ada konten Pak Ahmad Bahar yang menyinggung-menyinggung Hercules. Karena kan Hercules itu waktu itu mengingatkan Pak Amien Rais, sementara Pak Ahmad itu kan emang deket sama Pak Amien," jelas Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.
Analisis tajam di media sosial tersebut dinilai menjadi pemicu utama kemarahan simpatisan organisasi sebelum akhirnya kedua belah pihak sepakat berdamai di kantor polisi.
"Otomatis aja ya kontennya sih emang rada nyerempet-nyerempet, 'kamu tuh udah waktunya tumbang' gitu ngomong ke Hercules," tuturnya Yenni Nur, Istri Ahmad Bahar.