Aksi kriminalitas jalanan berupa pembegalan, penjambretan, hingga pencurian kendaraan bermotor kian marak dan meresahkan warga di berbagai sudut wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Megapolitan, rentetan peristiwa kejahatan tersebut bahkan dilakukan secara nekat menggunakan senjata tajam hingga senjata api pada siang hari.
Salah satu peristiwa terjadi di Jalan Duri Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ketika komplotan pencuri sepeda motor menodongkan benda diduga pistol dan melepaskan tembakan pada Minggu (10/5/2026). Korban kejahatan tersebut, Alif (25), sempat berupaya mempertahankan sepeda motor miliknya sebelum para pelaku melarikan diri.
"Saya keluar, ‘woi mau ngapain ini?’. Dia langsung nodongin pistol ke saya, bilang ‘diam, diam, diam’ katanya," ujar Alif, korban pencurian.
Aksi kejahatan lain juga menimpa seorang korban di Jalan Arjuna Selatan, Kebon Jeruk, yang dibacok setelah melawan empat pelaku begal pada Senin (4/5/2026) dini hari. Pihak Kepolisian Sektor Kebon Jeruk memastikan proses penyelidikan tetap berjalan untuk mengusut tuntas perkara tersebut.
"Meski belum ada laporan, tetap kami dalami karena kejadian ini meresahkan masyarakat," ujar Aqsha, Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Nur Aqsha.
Sementara itu, aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat berhasil menangkap empat pelaku pembegalan yang menyasar dua remaja di kawasan sepi Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Para pelaku yang membawa senjata tajam jenis celurit tersebut diringkus di beberapa lokasi terpisah di Jakarta Barat dan Tangerang.
"Iya ada empat orang terduga pelaku (begal ditangkap) dari kejahatan yang dilakukan di TKP Gunung Sahari," kata Roby, Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra.
Kasus pembegalan juga menimpa seorang pedagang kopi bernama Ernika Sinurat (46) di Jalan Koridor sisi barat BKT, Cakung, Jakarta Timur. Korban mengalami luka-luka akibat terjatuh dan terseret di jalan raya demi mempertahankan tas miliknya dari rampasan para pelaku.
"Akan tetapi kedua orang tersebut menendang motor korban yang mengakibatkan korban terjatuh, pada saat korban terjatuh salah satu orang tersebut menarik tas korban dan korban tetap memegangi tasnya sehingga korban terseret," ungkap Zen, Kanit Reskrim Polsek Cakung AKP Zen.
Maraknya tindak kejahatan jalanan ini mendapat perhatian dari Kriminolog sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Adrianus Meliala. Menurut dia, karakteristik kejahatan begal dan jambret sangat sulit diantisipasi oleh masyarakat yang bepergian seorang diri pada malam hari.
"Begal dan jambret itu mengandalkan kecepatan, ketidakterdugaan dan penggentaran. Itu 3 resep yg memang susah dilawan oleh orang yang jalan sendirian, di jalan yg sepi, malam hari," ujar Adrianus, Kriminolog Universitas Indonesia pada Selasa (19/5/2026).
Adrianus mengimbau publik untuk menghindari kawasan sepi demi meminimalkan risiko menjadi target kriminalitas. Pola kejahatan ini dinilai akan terus berulang selama metode yang digunakan para pelaku tetap berhasil melumpuhkan korban.
"Selama modus ini ampuh, ya akan dicoba terus. Sesimpel itu," katanya, Adrianus Meliala.
Terkait wacana tindakan tembak di tempat bagi para pelaku pembegalan, Adrianus menegaskan bahwa aparat penegak hukum harus tetap bertindak proporsional. Penggunaan senjata api hanya diperbolehkan dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa.
"Khususnya penembakan, hanya boleh kalau ada bahaya tak terelakkan (imminent danger)," ucapnya, Adrianus Meliala.
Di sisi lain, Sosiolog Universitas Gadjah Mada, A.B. Widyanta, menyoroti fenomena ini dari sudut pandang ketersediaan ruang publik yang aman. Kehilangan rasa aman di ruang publik menjadi indikator penurunan kualitas keamanan kota.
"Kalau dari perspektif saya ya tentu kondisi ini adalah bagian di dalam kita melihat bahwa ruang publik kita sudah tidak aman," ujar Widyanta, Sosiolog Universitas Gadjah Mada.
Widyanta mengingatkan agar publik tidak menyudutkan posisi korban dalam rentetan kasus kriminalitas ini. Ia menegaskan bahwa jaminan keselamatan warga di area publik merupakan tanggung jawab penuh dari negara.
"Namun tentu saja kita harus berhati-hati agar kita tidak terjebak dalam bias pemikiran yang menyalahkan korban," katanya, A.B. Widyanta.
Kelalaian negara dalam menjaga keamanan wilayah dinilai dapat memicu keputusasaan di tengah masyarakat. Kegagalan tersebut dikhawatirkan memunculkan desakan publik atas tindakan represif yang lebih keras.
"Ketika negara gagal atau sengaja membiarkan hal itu terjadi, ruang publik menjadi tidak aman," ujar dia, A.B. Widyanta.